Thursday, March 26, 2020

Radyta | Tujuh

Setelah menyelesaikan weekly meeting pagi ini, aku kembali ke meja kantorku untuk melanjutkan beberapa pekerjaanku yang sempat tertunda. Cukup banyak input yang diberikan untukku, sekaligus menjadi langkah awal untuk menbenahi Kantor Cabang ini. Walaupun ini adalah hal yang sangat baru bagiku, tapi entah mengapa aku merasa senang melakukannya. Mungkin karena suasana dan orang - orang di sekitarku sekarang sangat membantuku dengan cukup baik. 

Saat sedang sibuk membereskan beberapa pekerjaanku, ponselku tiba - tiba bergetar. Aku pun sekilas melihat layar ponselku untuk melihat siapa yang menghubungiku. Aku menghela nafas pelan saat melihat nama itu muncul lagi di layar ponselku setelah sekian lama. Almer Prastyo, yang tidak lain dan tidak bukan adalah Tyo. Aku sudah yakin pasti alasan ia menghubungiku. Salah satunya pasti karena Tyo mengetahui keberadaanku di Bandung lewat unggahanku semalam di Instagram. 

"Halo," sapaku pelan. Beruntungnya, meja kerjaku berada di pojok ruangan sehingga tidak terlalu mengganggu perhatian orang banyak jika sedang menerima telepon. 

"Halo Dyt, ini Tyo," suara Tyo yang masih bisa kuingat dengan jelas, membuatku tersenyum kecil dari balik ponsel.

"Iya, Yo... Aku masih simpen nomor kamu kok," jawabku. Terdengar Tyo tertawa pelan disana. 

"Kamu di Bandung?" tanya Tyo. 

"Iya, aku lagi tugas disini, Yo. Kamu apa kabar, anyway?" tanyaku, dengan pertanyaan basa - basi untuk membuka topik obrolan supaya tidak terkesan kaku.
"Baik, Dyt. Alhamdulillah. Kamu gimana? Sehat juga kah? Papa Mama gimana?" 

"Baik semua, Puji Tuhan," jawabku santai. Aku dan Tyo memang sudah terbiasa mengucapkan kalimat syukur menurut kepercayaan kami masing - masing. Ternyata kebiasaan itu juga tidak berubah sampai sekarang ini. 

"Kantor kamu dimana?" tanya Tyo, langsung tanpa basa - basi lagi. 

"Di Sukajadi, Yo." jawabku singkat karena tidak ada ide untuk memberikan pertanyaan balik kepada Tyo. 

"Loh searah rumah aku dong? Kamu pulang jam berapa? Aku jemput aja sekalian kita makan malem bareng gimana?" ajak Tyo yang mendadak membuatku sakit perut. 

"Gak papa emang?" tanyaku pelan, mencoba memastikan kembali karena sedikit perasaan tidak enak. Sekaligus perasaan belum siap untuk bertemu kembali dengan Tyo. 

"Dyta ah kebiasaan. Ya udah nanti share location ya. Aku jemput kamu jam enam. See you, Dyt." Tyo pun menyudahi percakapan, karena aku tahu, ia tidak ingin ditolak. 

Memori masa laluku bersama Tyo muncul berbarengan saat aku memutuskan sambungan telepon.Walaupun aku tahu, aku sudah tidak punya rasa apapun untuk Tyo, tetap saja kenangan masa lalu itu tiba - tiba bermunculan lagi di kepalaku. Aku menghela nafasku pelan. Tidak ada alasan untuk tidak siap bertemu dengan Tyo, pikirku langsung saat itu juga. 

No comments:

Post a Comment