Aku membuka pintu rumah dan berjalan memasuki ruang tamu. Hampir semua lampu sudah dimatikan. Aku yakin Ibu pasti juga sudah tidur. Aku pun menyalakan lampu tengah, lalu mengambil remote TV. Pikiranku kosong, rasanya masih tertinggal di dalam mobil. Aku menghela nafasku panjang sambil mengingat bagaimana ekspresi wajahnya setiap kali ia menceritakan sesuatu, atau setiap kali ia tersenyum dan tertawa. Aku juga tidak bisa menghilangkan wajahnya di kepalaku setiap kali mengingat bagaimana ia mendengarkanku dengan seksama setiap kali aku berbicara sesuatu.
"Nji, kok sendirian aja disini?" Suara halus Ibu memecah keheningan dan membuyarkan pikiranku. Aku pun menengok ke arah suara itu dan tersenyum melihat Ibu yang berjalan mendekatiku.
"Iya, Bu.. Kok Ibu belum tidur?" Aku pun beranjak dan mencium tangan Ibu.
"Kedengeran tadi suara mobil kamu masuk garasi," jawab Ibu sambil mengambil posisi duduk persis di sebelahku. "Tadi Nida dateng kesini, Nji.."
Aku menatap Ibu lagi, aku sama sekali tidak tahu kalau Nida hari ini datang ke rumahku. "Oh, iya? Panji gak tau. Ada apa, Bu dia kesini?" tanyaku, yang sebenarnya heran dengan sikap Nida, tapi berusaha untuk tetap tenang di depan Ibu.
"Ngirim makanan aja, katanya ada syukuran anak kakaknya," jawab Ibu. Lalu Ibu meraih tanganku perlahan dan menggenggamnya, "Kenapa sih, Nji antara kamu sama Nida? Ibu nggak pernah tau, sekarang Ibu mau tau."
Aku pun perlahan melepas genggaman tangan Ibu dan merangkulnya hangat, "Namanya enggak cocok, Bu.. Kan enggak bisa dipaksa kalau nggak cocok," jawabku lagi.
"Tapi kalian teh sebenernya udah ngomong berdua belum sih? Karena Ibu ngerasa dia masih berharap sama kamu, Nji. Ibu kan jadi nggak enak sama dia. Ada perasaaan gimana gitu.." Terlihat ada kecemasan dibalik perkataan Ibu.
"Udah selesai, Bu dari berbulan - bulan yang lalu. Sebenernya Panji udah mau ngomong sama dia lama, tapi kan dia masih harus Ujian Dokter waktu itu, jadi enggak tega. Ya udah, baru bisa diomongin sekitar empat bulan yang lalu sama dia.." jawabku berusaha menjelaskan tanpa masuk terlalu dalam kepada Ibu.
"Apa karena Nida cemburu kamu syuting video clip itu, Nji?"
Aku tertawa kecil, "Enggak lah, Bu.. Bukan masalah itu. Emang udah dari lama Panji ngerasa engga cocok, cuma bener - bener baru diomongin ya empat bulan lalu sama dia.." Aku mengulangi lagi, supaya setidaknya Ibu mengerti bahwa hubunganku dengan Nida selesai bukan karena masalah orang ketiga, tapi lebih jauh dari itu.
Ibu pun tersenyum lalu beranjak dari duduknya, "Si Aa tuh setiap hari nanyain terus ke Ibu, 'Panji kapan, Bu? Panji kapan, Bu?' Ibu sampe bingung harus jawab apa ke Aa. Akhirnya Ibu bilang aja, 'sok tanyakeun langsung ke Panji. Anaknya aja masih sibuk kerja terus setiap hari,'"
"Iya, nanti biar Panji telepon Aa ya, Bu.." ucapku sambil tersenyum berusaha melegakan hati Ibu. Ibu pun akhirnya berpamitan untuk tidur duluan, sementara aku masih ingin duduk di ruang tengah sambil kembali memikirkan dia, Radyta.
No comments:
Post a Comment