Friday, March 27, 2020

Radyta | Sembilan

Sudah dua minggu sejak kepindahanku ke Bandung. Malam ini, aku pun memutuskan untuk menghubungi Papa dan Mama dan mengabarkan kalau aku belum bisa pulang ke Jakarta. Aku merasa beberapa pekerjaanku belum bisa kutinggalan, selain itu aku juga masih harus membereskan barang - barang di apartemen yang masih kuatur seadanya. 

"Maaf ya, Ma.. Dyta belum bisa pulang lagi minggu ini. Masih ada beberapa kerjaan, gak bisa Dyta tinggalin. Terus mau beresin apartemen juga. Nanti Dyta atur ya supaya bisa pulang ke Jakarta.." ujarku pada Mama di sambungan telepon. 

"Iya udah nggak apa - apa. Kalo Dyta belum sempet, biar Papa sama Mama aja yang ke Bandung gimana?" tanya Mama. 

"Boleh banget. Pokoknya kalo mau dateng, Mama kabarin Dyta aja ya. Kalo bisa naik kereta aja deh, Ma.. Supaya gak kena macet. Kasian kan Papa kalo nyetir tapi macet - macetan," sahutku mengingat hanya Papa yang bisa menyetir dan tidak tega kalau harus membayangkan Papa dan Mama bermacet - macet ria. 

"Gak apa - apa, kita bawa mobil aja. Rencananya si Ado mau pulang juga lusa. Libur tiga minggu sebelum kerja praktek. Jadi nanti bisa gantian nyetir sama Ado kalo Papa capek." 

"Oh gitu, ya udah nanti Dyta telepon Ado juga deh. Udah lama gak ngobrol sama dia. Yang penting. Papa sama Mama jaga kesehatan ya. Dyta kangen banget.." Aku tersenyum dari balik ponselku. Walaupun aku tahu, Mama tidak bisa melihat ekspresiku, tapi aku yakin Mama tahu kalau aku juga merindukan rumah. 

"Hati - hati ya, Nak disana. Jaga diri, jaga kesehatan. Jangan lupa hari Minggu ke Gereja ya. Love you, anak Mama..." 

Setelah berpamitan, sambungan telepon pun putus. Aku menghela nafasku lalu melihat jam sudah menunjukkan pukul delapan malam. Ruangan kantor sudah sepi, tidak ada satupun yang masih berada di dalam. Walaupun demikian, aku masih bisa mendengar suara obrolan dari luar. Aku pun memutuskan untuk membereskan barang - barangku dan membawa pulang laptop untuk melanjutkan pekerjaanku di hari weekend

"Dyt.." panggil seseorang dari arah pintu masuk. Aku pun mengangkat kepalaku dan melihat sosok Fadly yang kini berjalan ke arah mejaku. Aku tersenyum dan menyapanya. "'Kok belum pulang sih? Lagi banyak kerjaan?" tanya Fadly lagi. 

"Iya tadi ada beberapa yang belum selesai. Ini mau pulang kok. Kamu gak pulang juga?" tanyaku balik. Walaupun aku bisa melihat Fadly sudah mengenakan tas selempangnya dan sepertinya ia juga bergegas untuk pulang. 

"Iya ini mau pulang juga. Kamu pulang ke arah mana sih, Dyt? Bareng aja ayuk." ajak Fadly yang menurutku memang sangat perhatian kepada semua orang di kantor ini. Mulai dari rekan satu timnya, sampai kepada Mang Udin. 

"Ke Ciumbuleuit kok, deket. Gak apa - apa mas, aku naik ojek aja bisa kok, gampang." tolakku halus sambil tersenyum karena aku memang tidak ingin merepotkan orang lain, apalagi kalau itu bisa kulakukan sendiri. 

"Oh, Ciumbuleuit. Kalo kesana mah bareng Panji aja tuh. Dia juga rumahnya di Ciumbuleuit, dari UnPar, naik dikit. Udah dianterin aja. Panji juga ada kok itu di luar sama Rangga." Fadly pun mengajakku keluar sambil membantu membawakan tas laptopku. 

"Nji......" seru Fadly saat kami berdua masih berada dalam ruangan. Setibanya di luar, aku melihat Panji dan Rangga sedang mengobrol bersama dengan Mang Udin. Sekilas ia menatapku lalu tersenyum. Aku  pun balas tersenyum padanya, lalu mengarahkan pandanganku pada Rangga dan menyapanya juga. 

"Naon?" tanya Panji pelan dengan logat Sunda nya.

"Anterin Dyta pulang ya, searah kok sama maneh. Di Ciumbuleuit juga," jawab Fadly enteng.Panji pun menatapku lagi. 

"Gak usah kok, Dly. Beneran, bisa pulang sendiri.." Aku tersenyum, masih berusaha menolak tawaran Fadly dengan halus. 

"Ih udah nggak apa - apa, Dyt. Dianter aja. Udah malem juga gini," Rangga mencoba meyakiniku sambil tersenyum.

Ada sedikit perasaan tidak enak karena harus merepotkan Panji. Walaupun aku baru mengenal tiga orang pria ini, tapi tidak ada perasaan gelisah sedikitpun yang muncul di kepalaku. Aku tahu dan aku yakin, mereka bertiga adalah sosok pria yang bisa diandalkan, dipercaya dan memang punya sifat perhatian kepada teman. Tapi memang aku yang selalu punya rasa 'tidak enak,' kalau sampai merepotkan orang lain. 

"Gak apa - apa, bareng aja. Yuk, sekarang?" tanya Panji, menatapku, sambil meraih tas laptopku dari Fadly. 

No comments:

Post a Comment