Thursday, March 26, 2020

Radyta | Lima

Bekerja di Bandung, adalah sebuah cita - cita yang baru kesampaian hari ini. Sejak lulus kuliah, aku selalu punya keinginan untuk bekerja di Bandung. Ingat sekali rasanya saat detik - detik meninggalkan Bandung untuk pindah ke Jakarta, perasaanku saat itu sangat tidak karuan. Antara sedih, ingin tetap tinggal, tapi tidak bisa. Aku keburu diterima di salah satu perusahaan di Jakarta. Tetapi bukan, bukan perusahaan tempat bekerjaku yang sekarang ini.

Kembali ke Bandung setelah hampir tiga tahun tidak pernah kesini lagi, adalah salah satu hal yang membuat aku amat senang. Pertama, karena aku selalu  menyukai kota Bandung. Kedua, tantangan baru, suasana baru dan lingkungan baru membuatku cukup bersemangat untuk memulai pekerjaanku disini. 

Selama bertugas di Bandung, aku ditempatkan di salah satu apartemen di Ciumbulueit, sementara Kantor Cabang Bandung ada di daerah Sukajadi. Tidak terlalu jauh, tapi Sukajadi adalah salah satu daerah macet di Bandung. Terutama saat weekend

Lingkungan kantor di Bandung pun benar - benar mendukung. Tidak seperti di Jakarta, di sini sebuah rumah besar disulap menjadi sebuah Kantor Cabang. Tidak ada sekat antar karyawan dan tidak ada batasan antar divisi. Aku mulai beradaptasi dengan suasana disini, ditambah semua orang disini sangat ramah dan murah senyum. Sebuah awal yang baik, semoga saja seterusnya baik, batinku saat itu. 

"Senang banget akhirnya Mbak Dyta akhirnya bisa kesini! Pak Arief banyak banyak cerita soal Mbak Dyta sama saya!" sambutan hangat dari Pak Djatmiko, atau yang lebih suka dipanggil Pak Djat, Kepala Cabang kantor Bandung, membuat aku merasa "sangat diterima" disini. 

"Cerita apa aja, Pak?" tanyaku sambil tertawa pelan. 

"Banyak deh, Mbak. Intinya, Mbak Dyta itu salah satu kesayangan Pak Arief. Emang saya kan juga request ke Pak Arief, kalau bisa teh yang gantiin Mas David itu, yang masih muda. Soalnya disini kan karyawan kita kebanyakan masih muda semua, Mbak. Jadi biar ngebaurnya enak gitu.." jawab Pak Djat panjang lebar. Aku pun menganggukkan kepala mengerti sambil tersenyum. "Ayo deh, Mbak saya ajak muter.. Biar kenalan sama yang lain." ajak Pak Djat. 

Hari pertama bekerja di Bandung adalah salah satu hari yang paling membuatku senang. Benar - benar berbeda. Lebih excited dari yang kuduga. Entah mengapa sebuah perasaan lega dan tenang muncul bersamaan, tidak ada kegelisahan sama sekali saat aku pertama kali berkeliling di kantor itu. Aku benar - benar bersyukur karena semuanya berjalan mulus. Setidaknya, perkenalan dengan karyawan di sana berjalan baik. 

"Mbak Dyta ini adalah Team Leader Divisi IT kita yang baru dan se-men-ta-ra," ujar Pak Djat di tengah - tengah ruangan. Sontak yang lain langsung bergumam sendiri saat mendengar kata 'sementara.' Pak Djat pun kembali melanjutkan, "Kenapa sementara? Karena kita minjem. Kalo minjem kan harus dibalikin atuh, asalnya Mbak Dyta ini dari Kantor Pusat di Jakarta." 

"Semoga aja kerjaan di Bandung gak selesai - selesai ya, Mbak Dyta. Biar dipinjem selamanya terus di Bandung." ujar salah satu pria yang berdiri di paling belakang. Aku hanya bisa tersenyum kecil menatapnya sebentar lalu kembali melirik ke arah Pak Djat. 

"Aih kamu mah, Fadly," kata Pak Djat sambil mengibaskan tangan "Tapi saya juga setuju sih, Mbak sama Fadly." sambung Pak Djat lagi yang disambut tawa para karyawan yang lain. "Jangan masukin hati ya, Mbak Dyta, disini emang kita semua bicara apa adanya. Nah, yang ngomong tadi itu namanya Fadly, dari Marketing." 

Yang bernama Fadly itu pun melambaikan tangan sambil tersenyum. Aku pun membalasnya dengan anggukan kecil dan tersenyum. Sungguh aku merasakan salah satu sambutan yang luar biasa hangat. 

Terima kasih, Bandung. Untuk hari pertama ini.

No comments:

Post a Comment