Sunday, March 29, 2020

Radyta | Tiga Belas

"Iya, Mama.... Senin Ado pulang ya. Weekend minggu depan kita ke Bandung lagi sama - sama samperin Dyta... " 

Aku hanya bisa tersenyum sambil terkekeh melihat Ado yang pasti sudah kena omelan Mama panjang lebar. Kami berdua kini sudah duduk bersama di salah satu coffee shop yang letaknya persis di depan apartemenku di daerah Ciumbuleuit. 

"Iya iseng aja sih, Ma... Abis udah gak ngapa - ngapain di Semarang. Terus malemnya dapet ilham kenapa gak ke Bandung aja dulu nyamperin kakak tercinta. Yaudah langsung beli tiket deh, pagi jam enam tadi berangkat." jelas Ado panjang lebar lewat sambungan telepon. Aku hanya bisa meledeknya dan tertawa kecil melihat ekspresinya yang seperti sudah 'kenyang' karena omelan dari Mama. 

Aku pun menyalakan laptopku untuk memulai bekerja, sementara Ado masih sibuk bergantian berbicara dengan Mama dan Papa. Waktu baru menunjukkan pukul sepuluh ketika aku melihat sosok tiga orang pria yang aku kenal jelas perawakannya. Mereka berjalan memasuki coffee shop bersamaan dan langsung menyadari keberadaanku disitu.

"Eh, Dyta! Halo.." sapa Rangga bersemangat sambil melepas sunglass nya lalu menyodorkan tangannya untuk tos denganku. Aku pun tersenyum dan membalas tos Rangga itu. Sementara Ado yang duduk membelakangi pintu masuk pun menoleh sambil melihat ke arah Rangga. 

"Iya, Mama. Udah ya. Ado lagi nemenin Dyta nih. Yaaaaa, dadah.." Ado cepat - cepat mematikan ponselnya lalu tersenyum kepada Rangga, 

"Lah ada Dyta, ngapain Dyt?" tanya Fadly sambil melihat ke arah Ado, heran. 

"Ini ada yang mau dikerjain. Eh iya, kenalin ini adik aku, Ado.. Baru dateng tadi pagi." Aku pun memperkenalkan Ado kepada Rangga, Fadly dan tentunya Panji yang berada di urutan paling belakang. 

"Halo," sapa Panji pada Ado lalu menatapku dan tersenyum padaku. 

"Sok sok lanjutin," ujar Fadly lagi saat mereka semua sudah berkenalan dan tos - tos ala lelaki kepada Ado. 

"Kita photoshoot dulu ya diatas, nanti ngobrol lagi ya," pamit Rangga.

"Oh iya, silahkan silahkan.." kataku membalas dengan cepat, walaupun aku masih sedikit heran dan ingin bertanya. Tapi kuurangkan niatku, karena aku masih bisa bertanya di lain waktu, terutama Fadly yang satu kantor denganku. 

Fadly dan Rangga pun dengan cepat berjalan menuju tangga, diikuti dengan beberapa crew yang sibuk menenteng beberapa kamera, peralatan lighting dan barang - barang lain yang tak kuketahui namanya. 

"Masih lama disini?" tanya Panji, menatapku lalu Ado bergantian sambil tersenyum. 

"Tergantung kerjaan aja sih ini, aku mau selesein beberapa.." jawabku. 

Panji pun mengangguk, "Ya udah, naik dulu ya.." pamitnya lagi. 

"Yo, silahkan, Bang.." Ado tersenyum pada Panji, dan akhirnya Panji pun berjalan menaiki tangga. 

Ado menatapku, setengah menyelidik dan setengah meledek, "Baru berapa hari lo disini?" tanyanya, yang sudah bisa kuketahui arah pembicaraannya. 

"Baru dua minggu," jawabku, sambil sibuk menatap layar laptopku dan berusaha fokus. 

"Baru dua minggu, udah kenalan sama artis lokal Bandung, gila emang kakak gue..." 

"Rese lo ah," jawabku sambil tersenyum diikuti cengiran dan ledekan dari Ado. 

No comments:

Post a Comment