Cukup awkward berada di dalam mobil berdua dengan Panji. Walaupun kami sering bertegur sapa setiap kali ia datang ke kantor untuk menemui Fadly, tetap saja, untuk yang satu ini aku merasa sedikit gugup.
Saat aku sedang berusaha memikirkan pertanyaan apa yang bisa kutanyakan untuk membuka pembicaraan, Panji sudah memulainya terlebih dahulu.
"Sampai kapan tugas di Bandung?" tanya Panji, sambil menoleh ke arahku sekilas. Ia lalu kembali memusatkan perhatiannya ke jalanan depan. Butuh waktu sekitar tiga detik sebelum aku menjawab pertanyaannya karena aku sibuk memperhatikan sosok Panji.
"Kurang lebih enam bulan, Mas. Banyak yang harus diperbaiki ternyata disini.." jawabku, lalu menatap keluar jendela. Ada sedikit perasaan aneh yang kurasakan. Aku merasa seperti sudah pernah mengulang hal ini, tapi tak bisa kuingat dimana.
"Panji aja.." ujar Panji lagi. Aku pun lalu mengangguk dan tersenyum. Terbiasa memanggil orang lain dengan sebutan 'Mas' di Jakarta mungkin masih terbawa sampai ke Bandung.
Suasana kembali hening.
Lalu sontak, aku teringat sesuatu dan hal itu pun langsung kuutarakan pada Panji.
"Jujur aku kaget sih waktu pertama kali liat kamu, yang dikenalin sama Fadly kemarin itu di PVJ.." Aku berusaha membuka obrolan yang memang sebenarnya tak bisa kutahan. Semoga saja ini awal yang baik agar suasana di dalam mobil ini tidak terlalu tegang.
Tak kusangka, Panji tertawa saat mendengar pengakuanku itu, "Kenapa kaget?"" tanya Panji, masih dengan senyuman lebar walaupun sambil memperhatikan jalan.
"Soalnya aku baru banget liat video itu hari Minggu nya, sebelum aku berangkat ke Bandung. Bener - bener baru banget liat karena pas waktu itu lagi dengerin radio kan, terus ada Andhito di wawancara. Aku penasaran sama lagu barunya, yaudah aku cari di Youtube..." ujarku panjang lebar menceritakan reka ulang kejadian. "Eh terus beberapa hari kemudian... Aku kenalan beneran sama model video nya.."
Panji pun tertawa lagi setelah mendengar ceritaku. Aku pun juga ikut tertawa karena sampai detik ini aku masih tidak percaya kalau aku bertemu langsung dengan sosok Panji, yang memang sangat good looking dan ternyata juga sangat ramah.
"Ya ampun, malu euy baru kali ini aku diceritain langsung empat mata kayak gini, kamu doang kayaknya yang cerita ke aku dengan situasi begini, bener - bener berdua begini,"
Aku pun tersenyum mendengar pengakuan Panji yang rasanya natural, tidak ditutup - tutupi dan tidak dibuat - buat. Aku rasanya masih setengah tidak percaya, tapi ya, dia memang orangnya. Aku ingat sekarang, karena tatapan hangat itu.
"Emang biasanya diceritain kayak gimana?" tanyaku, ingin tahu.
"Iya biasanya kan diceritain pas rame sama anak - anak, atau pas lagi nongkrong di tempat umum gitu. Jadi ya kayak aku sambil lalu aja gitu. Kalo kayak kamu gini kan bener - bener berdua, jadi malu juga euy," Panji tersenyum lebar sambil melihatku sebentar. Aku pun juga tersenyum lebar melihat ekspresi wajahnya yang memang tersipu.
"Tapi aku suka banget deh itu lokasi syutingnya dimana sih? Bagus ya kayaknya..." ujarku, yang sebenarnya juga penasaran dengan lokasi syuting video itu.
"Mau kesitu?" Panji langsung menatapku, cukup lama.
Aku pun hanya bisa mengangguk pelan sambil tersenyum polos ala anak kecil yang minta dibelikan sesuatu.
"Ayuk kita kesitu. Berarti.... Kita puter balik ya." Panji pun meminggirkan mobilnya ke tepian perlahan, lalu menarik rem tangan. Ia menatap ke arahku lagi, "Mau nggak kita beli es kopi susu dulu?" ajaknya, sangat lembut.
Aku pun langsung mengangguk cepat, "Aku suka banget es kopi susu!! Mau banget!" jawabku bersemangat.
Panji tersenyum lagi, "Pas kalo gitu."
No comments:
Post a Comment