Sunday, March 29, 2020

Radyta | Lima Belas

Ternyata Panji mengajak kami berdua makan malam di salah satu cafe di daerah Dago. Yang menurutku, baru dibuka akhir - akhir ini karena selama aku kuliah, aku belum pernah melihat cafe itu sepanjang jalan di Dago. Sepanjang jalan, Ado dan Panji sibuk membahas soal karir 'modelling' Panji yang ternyata diawali dengan ketidaksengajaan. Aku pun juga baru mengetahui kalau Panji, Rangga dan Fadly berasal dari satu agensi yang sama. Jadi, setiap ada permintaan syuting seperti iklan, video clip, atau mini film yang berlatar di Bandung dan sekitarnya, agensi mereka selalu yang diutamakan. 

"Lumayan banget itu ya, Bang duitnya buat jajan kopi. Jadi gak ganggu uang gaji," ceplos Ado saat Panji selesai menjelaskan panjang lebar. 

"Banget, makanya ya enjoy juga sih jalaninnya. Nambah temen, nambah pengalaman, nambah channel kenalan juga. Jadi ya seru sih," jawab Panji saat itu. 

Kami pun makan malam bertiga dengan suasana yang tidak jauh - jauh dari mengobrol serius, bercanda, lalu tertawa bersama - sama. Sepanjang makan malam, banyak cerita dari Panji, bahkan Ado yang membuatku terkejut bahkan sampai tertawa. Satu hal yang aku baru sadari, Ado benar - benar sudah bukan 'anak kecil' lagi, karena ia hanpir bisa mengobrol banyak hal denganku, juga Panji yang punya keseharian amat berbeda dengan dirinya. Aku cukup senang karena Ado bisa menemaniku malam ini, walaupun kedatangannya ke Bandung membuat aku, Papa dan Mama sedikit 'terkejut.' 

"Kapan balik ke Semarang, Do?" tanya Panji pada Ado, saat ia sudah selesai menyantap makanan. 

"Ke Jakarta dulu sih, Bang. Mau magang juga soalnya di Jakarta," jawab Ado sambil menghabiskan suapan terakhirnya. 

"Oh gitu, kapan balik Jakarta berarti?" 

"Senin sih rencana. Soalnya minggu depan mau ke Bandung lagi, nganter Papa sama Mama ketemu ini nih si Princess Dyta," jawab Ado setengah tersenyum meledek ke arahku. Aku hanya bisa menggelengkan kepala melihat tingkahnya yang selalu jahil. 

"Oh iya? Minggu depan Papa sama Mama mau ke Bandung?" tanya Panji, tapi menatap ke arahku. 

"Rencananya sih gitu," jawabku santai. Panji pun mengangguk lalu tersenyum pada Ado. 

"Mau jalan kemana, Do? Mumpung di Bandung, biar aku anterin," ujar Panji lagi yang disambut dengan mata berbinar oleh Ado. 

"Beneran nih, Bang?" Ado langsung menatap Panji bersemangat, diikuti anggukan dari Panji, "Dyt, gue saranin lo balik aja sih, ini udah boys time..." ledek Ado lagi diikuti tawa dariku dan Panji. 

"Emang punya adek gak ada sopan - sopannya," ujarku setengah gemas pada Ado. 

No comments:

Post a Comment