Sunday, March 29, 2020

Radyta | Dua Belas

Aku berusaha mengumpulkan nyawaku saat mendengar ponselku berbunyi nyaring. Aku meraih ponselku yang terletak di atas meja sebelah tempat tidurku. Aku melihat nama yang mucul di layar ponselku dan mengernyitkan dahi. 

"Halo," ujarku, yang masih setengah sadar. 

"Halo, Dyt, gue udah nyampe Bandung." 

"Hah?" Aku sekali lagi melihat layar ponselku untuk meyakinkan diri bahwa benar - benar Ado yang menghubungiku pagi itu. Sekilas aku melihat jam dinding, waktu masih menunjukkan pukul delapan pagi. "Nyampe Bandung? Ngapain?" Aku masih tidak mengerti, lalu kembali memaksakan diriku untuk sadar sepenuhnya. 

"Iya, gue berubah pikiran. Gue ke Bandung dulu nengok lo, baru pulang ke Jakarta." 

"Apaan sih..." ujarku pelan yang masih tidak mengerti isi kepala Ado, "Lo udah bilang Mama?" 

"Udah tadi pagi sebelum take off..." 

Aku menghela nafas. Itu artinya Mama belum tahu rencana Ado yang akan ke Bandung terlebih dahulu, bisa dipastikan Mama juga belum bangun pagi tadi saat aku berangkat, apalagi saat weekend seperti ini, aku tahu kebiasaan Papa dan Mama untuk bangun lebih siang. 

"Ngaco deh lo, yaudah sini naik Ojek aja ke apartemen gue. Gue share location.." kataku pada Ado setengah kesal. 

"Dyta, ah, jangan marah dong. Gue bawain lumpia loh ini buat lo. Yaudah gue kesana ya, lantai berapa?" tanya Ado lagi, dengan jurus mautnya setengah merayu. 

"Percuma gak bakal bisa naik ke atas kalo gak punya kartu akses. Lo kabarin aja kalo udah di lobby.." 

"Siap, Bos!!" jawab Ado bersemangat di seberang sana, "Jangan marah ah, dadahhh..." Ado pun menutup sambungan telepon. Aku akhirnya mau tidak mau beranjak dari tempat tidurku setelah mengirim location pada Ado. Aku pun membersihkan diri sebentar lalu membereskan kamar sebelah untuk ditempati Ado. Apartemen yang aku tinggali ini memang memiliki dua kamar tidur. 

Sekitar setengah jam kemudian, Ado kembali menghubungi dan mengabarkan kalau ia sudah sampai di lobby. Aku pun berjalan menuju lift, tak sampai lima menit, aku sudah melihat Ado duduk santai di salah satu sofa lobby. Ia tersenyum lebar kepadaku. Aku pun, yang memang tidak pernah bisa lama - lama kesal kepadanya sejak dulu, ikut tersenyum lebar melihat Ado yang memang sudah aku rindukan sejak lama. 

"Jangan ngambek dong, nih gue bawain lumpia," Ado memelukku sebentar, aku pun membalas pelukannya lalu menerima oleh - oleh darinya. 

"Thanks anyway, gue kan emang gak bisa lama - lama marah sama lo," ujarku sambil mencubit pelan perutnya. 

Ado pun tertawa lebar lalu merangkulku. Kami berdua pun berjalan bersama menuju ruang apartemenku. Banyak orang yang mengira bahwa aku dan Ado adalah pasangan, bukan kakak - adik. Apalagi kalau ia sudah merangkulku atau menggandengku. Menurutku itu semua karena Ado memang memiliki perawakan yang good looking dan mature sehingga tidak terlihat seperti adikku. 

"Gila, ini lo sendirian disini?" ucap Ado saat melihat ruanganku pertama kali. 

"Iyalah, sama siapa lagi," jawabku santai, "Kamar lo disitu ya," Aku menunjukkan padanya kamar tidur yang lebih kecil yang sudah kubereskan tadi sebelum ia datang. 

Ado pun meletakkan barang - barangnya sebentar di dalam kamar, lalu kembali ke ruang tamu. Aku pun sibuk membuka oleh - oleh lumpia darinya untuk digoreng. 

"Lo tuh kerja apa sih, Dyt. Sampe difasilitasin kayak gini," decak Ado terkagum - kagum sambil berjalan menyusuri setiap sudut apartemenku. 

"Gak tau, padahal gue tim hore doang di kantor," jawabku asal. 

"Ya elah, tim hore mah dikasihnya losmen, bukan apartemen, Dyt," ujar Ado lagi yang memang selalu bisa membuatku tertawa dengan ucapannya. "Lo ke kantor gak hari ini?" tanya Ado lagi. 

"Enggak, tapi gue ada beberapa yang harus dikerjain. Rencananya mau ke coffee shop seberang, mau ngerjain disitu. Eh ada lo dateng mendadak gini, paling gue kerja disini aja deh nemenin lo," jawabku lagi. 

"Eits, jangan gitu dong. Gue temenin aja deh ke coffee shop, sekalian gue juga mau bikin proposal buat magang." ujar Ado lagi sambil membantuku menggoreng lumpia di dapur. 

Aku menghela nafas lalu menatapnya, "Rencana lo tuh gimana sih? Tiba - tiba di Bandung, tiba - tiba nanti ke Semarang lagi, bingung gue." 

Ado menyengir lebar, "Nanti aja ya sister bahas itu, sambil ngopi - ngopi cantik." 

Aku hanya bisa menggelengkan kepala.

No comments:

Post a Comment