Senin pagi ini, aku berangkat ke kantor seperti biasanya. Setibanya di kantor, aku langsung menyalakan laptop dan melanjutkan kembali pekerjaanku yang sempat tertunda minggu lalu. Sambil memasang headset, aku sampai tidak menyadari bahwa tiba - tiba Pak Arief, manajerku sudah duduk di sebelahku. Sontak, aku pun langsung terlonjak kaget saat ia menyenggol pelan lenganku.
"Pak, saya kaget beneran loh ini..." ujarku sambil tertawa pelan. Tidak biasanya Pak Arief mendatangi ku sampai ke meja. Biasanya ia hanya menghubungi lewat Skype dan menyuruhku untuk datang ke ruangannya.
"Serius banget sih kamu sampe kaget deh jadinya," jawab Pak Arief santai. Aku pun melepas headsetku dan memutar bangku ku agar bisa duduk berhadap - hadapan dengan Pak Arief.
"Gimana, Pak? Ada yang error?" tanyaku, to the point, karena aku tahu Pak Arief bukanlah tipikal yang suka berbasa - basi. Biasanya ia langsung menanyakan masalah - masalah krusial. Ia juga tidak pernah suka dengan jawaban yang bertele - tele dan berputar - putar. Oleh sebab itu, aku berinisiatif untuk menanyakannya langsung padanya.
Buatku, Pak Arief adalah sosok leader yang sangat kompeten. Tidak hanya lihai dalam memimpin tim, tapi juga diluar pekerjaan, ia sudah kuanggap seperti orangtuaku sendiri. Terkadang, kalau ada waktu luang, kami sering makan siang bersama dan membahas hal - hal diluar pekerjaan. Sifatnya yang sangat kebapakan, membuatku cukup nyaman untuk bertukar pikirannya dengannya. Memang salah satu keberuntunganku punya manajer seperti dia.
"Enggak kok, gak ada yang error. Aman semua. Saya cuma mau minta tolong aja sih, Dyt.." jawab Pak Arief, amat santai. Aku mulai berpikir jauh, karena biasanya reaksi Pak Arief tidak pernah sesantai dan setenang ini.
"Minta tolong apa, Pak? Kan bisa lewat Skype aja, gak usah repot - repot ke tempat saya begini, Pak.."
"Iya, soalnya mau minta tolong kamu untuk pegang kantor cabang Bandung selama enam bulan. Hehehehe...." Cengiran Pak Arief sekaligus senyumnya yang lebar sontak membuat aku tertawa. Kami berdua pun akhirnya sama - sama tertawa.
Aku mengernyitkan dahi sekilas, lalu kembali tertawa, "Bapak nggak salah, Pak?" tanyaku yang masih setengah tidak percaya dengan apa yang baru saja dikatakannya.
"Saya kan nggak pernah salah, Dyt.." ledek Pak Arief yang lagi - lagi membuatku tertawa. "Tolong ya, Dyt. Saya cuma percaya sama kamu soalnya."
"Bapak kangen saya gak nanti kalau enam bulan saya ditugasin ke Bandung?" tanyaku, yang disambut tawa lepas dari Pak Arief.
"Ya ampun iya juga ya, Dyt! Kangen pasti deh, mana anak buah saya yang pinter kan kamu doang. Cuma ya gak apa - apa lah, abis yang handle kantor Bandung baru aja resign. Jadi mereka semua agak keteteran dan minta bantuan back up dari Jakarta. Ya sudah, dengan amat terpaksa saya lepas kamu deh. Soalnya saya yakin kamu bisa." Pak Arief menjawabnya dengan lebih serius sekarang, walaupun diselingi dengan senyuman kecil.
Aku masih terdiam sesaat. Bandung. Bandung lagi. Kenapa akhir - akhir ini Bandung sering kembali terlintas di pikiranku? Bahkan kehidupanku sekarang.
"Saya pikir - pikir bagus juga untuk karir kamu, Dyt. Saya sudah pikirkan dan putuskan, kami akan saya promote karena sudah pegang di kantor cabang," lanjut Pak Arief lagi yang makin membuatku mengernyitkan dahi. Perasaan campur aduk antara senang, kaget, bingung benar - benar kurasakan sekarang.
"Ini saya gak lagi dikasih harapan kosong kan, Pak?" tanyaku mencoba mencairkan suasana, sekaligus menutupi rasa terkejutku yang cukup memuncak. Lagi - lagi, Pak Arief tertawa. Belum pernah aku melihatnya tertawa selepas ini.
"Biar gak disangka saya kasih harapan kosong, setelah ini saya langsung e-mail ke kamu ya, soal tunjangan yang baru. Semoga cocok di kamu. Deal ya, Dyt?" tanya Pak Arief lagi, yang selalu menantikan jawaban konfirmasi secepatnya, tanpa basa - basi lebih jauh.
"Boleh, Pak. Ya udah, Pak.. Sejujurnya saya masih shock sih, Pak. Kaget banget, enggak nyangka aja." jawabku sambil menghela nafas pelan.
Pak Arief tersenyum lagi yang membuatku seperti melihat sosok seorang Bapak yang sebenarnya tidak rela melepaskan anak gadisnya pergi jauh. "Gak apa - apa, nanti kamu terbiasa. Saya yakin kok sama kamu."
Aku pun mengangguk sambil tersenyum, "Makasih ya, Pak udah mau percaya sama saya."
"Sama - sama, Dyt. Saya juga makasih karena kamu selalu bisa bantu saya selama ini.." jawaban Pak Arief benar - benar membuatku bangga sekaligus bahagia bukan main. "Anyway, lusa kamu sudah harus di Bandung ya, Dyt. Besok akan saya kasih tiket kereta nya ke kamu."
No comments:
Post a Comment