Thursday, March 26, 2020

Radyta | Delapan

Sekitar pukul enam sore, Tyo kembali menghubungiku dan mengabarkan bahwa ia sudah sampai di depan kantorku. Bergegas aku pun cepat - cepat membereskan barang - barangku dan mematikan laptopku. Saat sedang berjalan menuju keluar ruangan, dari balik kaca jendela aku melihat sosok Panji yang sepertinya baru sampai. 
"Mas Fadly belum sampai kantor lagi kayaknya, Mas Panji.." 

Sayup - sayup aku mendengar suara Mang Udin setelah menyapa Panji. Aku pun berjalan keluar dari pintu depan dan sesaat melihat ke arah Panji. Ia pun sepertinya menyadari keberadaanku dan langsung membalikkan badannya. Aku menatapnya, lalu tersenyum kecil. 

"Nunggu Fadly, Mas?" sapaku sebentar. 

"Iya ini, ternyata dia belum balik dari meeting," jawab Panji lalu kembali tersenyum padaku. 

"Aku duluan ya, Mas. Udah ditunggu." Aku pun langsung berpamitan pada Panji karena tidak enak membuat Tyo menunggu lama. 

"Hati - hati ya," 

Sebuah balasan yang tak kusangka dari Panji itu sontak membuatku tersenyum lebar kepadanya. Aku pun mengangguk pelan lalu berpamitan juga pada Mang Udin. 

Beberapa langkah setelah berjalan keluar dari depan pagar, aku bisa melihat sosok Tyo dari belakang yang sibuk memperhatikan arah belakang dari balik kaca spion motornya. Aku merekahkan senyumanku, dan ia pun membalas tersenyum dari kaca itu. Aku berjalan mendekatinya, berusaha tetap tenang walaupun aku bisa merasakan jantungku berdegup cukup cepat dari biasanya. 

"Dengan Mbak Dyta dari Jakarta ya?" Sebuah kalimat pembuka dari Tyo yang membuatku tertawa pelan. Kini aku bisa kembali menatap wajah itu dari dekat. Tidak banyak yang berubah, selain raut wajahnya yang mulai tampak lebih dewasa dari waktu terakhir aku bertemu dengannya. Tyo pun langsung memelukku, tidak erat, tapi aku bisa merasakan bahwa ia tidak ingin memiliki jarak denganku. Aku pun memeluknya sebentar lalu kembali melepasnya. "Mbak Dyta mau makan apa? Saya siap nganter keliling kemanapun Mbak Dyta mau." 

Tyo sempat menawarkan untuk mengajakku ke beberapa cafe baru di Bandung, tapi dengan sopan aku menolaknya. Aku memilih untuk makan di warung - warung tenda kaki lima di depan Kampus UnPad yang sudah lama aku rindukan. 

"Masa aku ngajak Ibu Bos makan di kaki lima? Atulah, Dyt.. Kamu emang gak berubah ya," kata Tyo saat kami  masih di perjalanan. Ia menatapku dari balik kaca spionnya saat aku memutuskan untuk makan di warung tenda biasa. Candaan Tyo itu hanya kubalas dengan gelengkan kepala sambil tersenyum lebar. 

Sampe kapan kamu dinas di Bandung?" tanya Tyo membuka pembicaraan saat kami sudah sampai di Warung Tenda Sate Padang langgananku di depan Kampus UnPad. 

"Kurang lebih enam bulanan.." jawabku sambil menyantap Sate Padang yang benar - benar sudah kurindukan ini. 

"Lama juga ya, lumayan. Tapi pasti setiap weekend pulang ke Jakarta ya pasti kamu?" 
"Enggak setiap weekend juga kayaknya, Yo.. Mungkin dua minggu sekali. Kamu sendiri proyeknya dimana sekarang?" tanyaku pada Tyo yang memang lulusan Teknik Sipil.  Aku sendiri sudah mulai membiasakan diriku lagi saat bertatapan dengan Tyo. Debar jantungku sudah normal kembali, dan aku merasa seperti sedang mengobrol santai dengan teman lamaku. 

"Di Kopo. Tapi udah mau selesai juga kok disana. Mungkin sekitar sebulan lagi selesai.." jawabnya lagi sambil tersenyum kepadaku. 

"Terus, Bapak apa kabar?" Pertanyaan yang keluar begitu polosnya dariku sontak membuat raut wajah Tyo berubah seketika. Seperti ada rasa tidak enak dari darinya. Tapi cepat - cepat kubalas dengan senyum lebar kepadanya. 

"Alhamdulillah, Dyt. Sehat kok sehat.." Ia tersenyum kecil. "Kamu nginep dimana selama disini?" tanya Tyo lagi yang kurasa mencoba mengalihkan topik pembicaraan. 

"Di Ciumbuleuit," Aku yakin sekali pertanyaan klasik itu berujung pada tawaran Tyo untuk mengantarku pulang. 

"Aku anter kamu pulang aja ya sekalian, searah kok sama kita pulangnya.." 

"Enggak searah dong. Aku ke kanan, kamu ke kiri..."ledekku sambil mengedipkan mata. Tyo pun tertawa pelan sambil menghabiskan makanannya yang terakhir. 

"Ampun, Neng.." katanya setengah tersipu, "Pokoknya kalo kamu butuh apa - apa selama di Bandung, bilang aja ya, Dyt. Insya Allah aku bisa bantu." sambung Tyo lagi. 

"Aku gak papa kok direpotin kamu. Dari dulu kamu gak pernah ngerepotin aku soalnya." Nada suara Tyo mendadak berubah menjadi sedikit lebih serius. Aku bisa merasakannya walaupun hanya sebentar. 

Tyo bersikeras mengantarkan aku sampai ke Apartemen. Aku pun tidak bisa menolaknya, walaupun ada sedikit perasaan bersalah terhadap pacar Tyo. Sempat terbersit di pikiranku untuk menanyakan bagaimana hubungannya saat ini dengan pacarnya, yang beberapa kali sempat kulihat di update oleh Tyo di Instagram pribadinya. Tapi aku berusaha menahan, karena aku tahu, Tyo pasti akan menjawab ala kadarnya. 

"Bilang aja kalo mau ke Gereja, nanti aku anter.." kata Tyo saat aku sudah turun dari motor. 

"Enggak usah lah, gak papa kok aku bisa. Nanti paling naik ojek aja.." jawabku jujur. Selain itu, aku juga tidak mau terlalu banyak merepotkan orang disini. 

"Mending kamu bayarin aku minum kopi daripada bayar ojek, Dyt.." katanya setengah serius yang anehnya, lagi - lagi bisa kurasakan. Aku pun hanya mengangguk pelan sambil tersenyum padanya. 

"Alhamdulillah kamu masih mau ketemu aku. Aku seneng banget bisa ketemu kamu lagi, Dyt. Demi Allah deh. Pas liat kamu update lagi di Bandung, aku kaget banget. Untung tadi aku telepon kamu angkat ya," ujar Tyo diakhiri dengan tawa lagi. 

Tyo yang sekarang memang tidak berbeda dengan Tyo yang dulu aku kenal, salah satunya, ia tidak suka neko - neko. 

"Ya udah, sok naik. Istirahat. Besok masih kerja lagi. Kalo ada apa - apa, please kasih tau aku ya, Dyt. Siapa tau aku bisa bantu kamu.." 

"Iya, pasti. Makasih ya, Yo.. Kami hati - hati, kabarin ya sampe rumah," ujarku menyudahi.  

"Dyt," panggil Tyo pelan. "Aku seneng banget kamu masih mau ketemu aku. Makasih ya, Dyt. Makasih kamu mau selalu baik sama aku." 

No comments:

Post a Comment