Thursday, March 26, 2020

Radyta | Enam

Tepat pukul jam dua belas siang, Fadly menghampiriku yang sedang sibuk membaca beberapa draft pekerjaan yang baru saja dilimpahkan Pak Djat kepadaku. Ia tersenyum sambil menarik salah satu kursi kosong dan duduk di sebelahku. 

"Makan yuk," ajaknya santai. 

"Biasanya kalau makan siang deket sini dimana, Mas?" tanyaku, yang memanggilnya dengan sebutan 'Mas' agar jauh lebih sopan. 

"Aduh, panggil Fadly aja.." katanya lagi sambil memperlihatkan wajah keberata saat dipanggil dengan sebutan 'Mas.' Lalu, Fadly pun kembali melanjutkan, "Biasanya makan di warung - warung deket sini banyak kok. Tapi ini aku mau makan siang di PVJ, sekalian mau lanjut meeting nanti. Ikut nggak? Ikut aja lah, daripada makan sendirian.." ajaknya lagi sambil tersenyum lebar. 

"Yaudah boleh, ayuk.." Aku pun beranjak sambil membawa dompet dan handphoneku, lalu berjalan keluar ruangan mengikuti Fadly. Ia pun mengeluarkan kunci mobilnya dan berpamitan pada Mang Udin, security di kantor ini. 

"Nanti aku anterin kamu balik aja dulu ke kantor. Masa kamu balik sendiri," ujar Fadly membuka obrolan. 

"Gak papa kok, santai aja. Kan bisa nanti naik ojek. Daripada kamu bolak - balik. Emang meetingnya dimana?" tanyaku. 

"Ih gak papa lah, deket ini dari PVJ ke kantor. Meeting di PVJ juga. Udah gak papa, santai aja. Daripada kamu dibawa nyasar nanti sama ojek kan," ledek Fadly. 

"Enggak lah, aku hafal Bandung kok. Kan dulu kuliah di Bandung," jawabku yang membuat Fadly cukup kaget. Raut wajahnya berubah seketika.

"Seriusan? Kuliah di Bandung? Naon kita gak dipertemukan aja sejak kuliah yah?" ujar Fadly yang membuatku tertawa. "Eh iya, Dyt. Aku makan bareng sama temen - temen aku gak apa - apa yah?" lanjut Fadly. 

"Gak apa - apa dong, santai.." jawabku. 

Kami berdua pun sampai di PVJ dan masuk ke salah satu restoran Jepang disana. Aku berjalan mengikuti Fadly yang tampak menuju ke salah satu meja dengan dua orang pria yang sudah mendahuluinya. Ia pun menyapa kedua pria lalu memperkenalkanku kepada keduanya. 

"Dyta," ujarku memperkenalkan diri saat berkenalan dan bersalaman dengan Rangga dan Panji. Dua orang yang diperkenalkan Fadly sebagai sahabatnya sejak lama. Aku sempat menatap Panji beberapa saat karena merasa wajahnya tidak asing. Yang bernama Panji itu pun sepertinya merasa kalau aku sedang 'berpikir' saat bersalaman dengannya. 

"Kenapa, Dyt? Kayak pernah liat yah?" tanya Fadly membuyarkan pikiranku. Sontak aku pun langsung melepaskan salamku dan tersenyum kecil. 

"Iya, kayak pernah liat tapi dimana ya," Aku masih berusaha untuk mengingat - ingat. 

"Kata kuncinya : model." ujar Rangga sambil tertawa kecil ke arah Panji, lalu ke arahku. 

Sontak aku pun terdiam dan terkejut. Gambaran wajah Panji mendadak terasa amat jelas di kepalaku. Ya Tuhan, batinku pelan. "Yang di music videonya Andhito ya?" tanyaku, pelan karena aku belum yakin walaupun wajah Panji bisa kuingat jelas di dalam video itu. 

Panji pun langsung tersenyum lebar, sementara Rangga dan Fadly kompak memuji ku, lalu memuji Panji karena sekarang sudah menjadi 'artis.' Kami berempat pun langsung dengan mudah beradaptasi dan mengobrol satu sama lain. Thank to this Panji. 

No comments:

Post a Comment