Saturday, March 28, 2020

Radyta | Sebelas

Siapa yang menyangka kalau hari ini aku punya waktu lebih banyak untuk mengobrol dengan Panji, si model sekaligus Relationship Manager di salah satu perusahaan startup di Bandung. Kami menghabiskan waktu berjam - jam di lokasi syuting music video itu yang berada di kawasan Dago sambil membicarakan banyak hal, salah satunya latar belakang pekerjaan masing - masing. 

Satu hal yang aku tahu pasti, Panji adalah sosok yang tahu banyak hal. Walaupun tidak punya background pekerjaan yang sama denganku, ia tahu sedikit banyak tentang hal - hal yang kukerjakan sehari - hari. Tidak hanya itu, ia juga merupakan pendengar yang baik. Benar - benar ia selalu menatapku dengan penuh perhatian saat aku sibuk bercerita atau menjelaskan sesuatu. 

"Aku tuh bener - bener gak ngerti deh kalo disuruh akting di depan kamera, gak bisa banget...." ujarku, karena masih terkagum dengan akting Panji di video itu yang sangat menarik perhatianku sampai aku bisa menghafal wajahnya dan menyadarinya saat pertama kali berkenalan di PVJ. 

"Awalnya aku juga. Kagok banget sampe retake berkali - kali.. Tapi lama kelamaan akhirnya terbiasa. Apalagi kalo lawan mainnya temen sendiri. Lebih kerasa gampang gitu rasanya.." jawabnya sambil tersenyum kecil. 

"Jadi kamu sama si cewek itu emang udah temenan berarti?"

"Sempet beberapa project bareng sebelum ini, jadi enggak kagok banget..." jawabnya lagi, "Menurut kamu, gimana video nya? Bagus apa engga?" Sekarang gantian ia yang bertanya. 

"Bagusssssssss bangetttttttttt!" jawabku bersemangat, "Bener - bener apa ya flawless menurutku, mulai dari setting tempat, properti, tone video, sampe chemistry kalian tuh dapet banget jadi kita yang nonton ikutan baper!" 

Panji tertawa setelah mendengar jawabanku, "Serius sampe baper?" katanya sambil memasang wajah tidak percaya. 

Aku mengangguk cepat, "Ya mungkin karena hampir mirip sama pengalaman pribadi juga kali ya, jadi bapernya lebih ngena.." jawabku jujur, diikuti tawa lagi dari Panji. 

"Kalo pengalaman pribadi ya enggak heran sih," ledeknya sambil tertawa, "Tapi sampe sekarang emang masih sama yang beda agama?" tanya Panji, karena music video Andhito yang terbaru itu memang menceritakan tentang pasangan beda agama. 

Aku hanya tersenyum lebar sambil menggelengkan kepala merespon ledekannya, "Enggak, udah selesai dari tiga tahun yang lalu..." jawabku santai. 

"Yang jemput kamu minggu lalu itu?" 

Kenapa dia bisa tahu? Pikirku dalam hati,

"Kok kamu tau?" tanyaku setengah terkaget. 

Panji pun tersenyums sambil menggelengkan kepala, "Jarang - jarang ada mantan yang hubungannya masih baik, sampe mau ngejemput gitu. Kemungkinannya cuma dua, dia yang gak bisa move on, atau kamu memang spesial." 

Jawaban Panji membuatku tertegun. Hal itu sama sekali tidak pernah terpikirkan sebelumnya olehku. 

"Kalau aku tebak, dan aku yakin banget aku gak salah. Dia mah udah move on, tapi kamu memang spesial. Jadilah seperti itu, jemput menjemput.." sambungnya dengan nada santai, tenang dan diikuti dengan senyum hangat sambil menatapku. 

"Kok yakin banget kamu enggak salah?" tanyaku lagi sambil tersenyum meledeknya. 

"Ya karena kamu memang spesial..." 

Aku terdiam sebentar. 
Panji pun juga terdiam. Sejenak raut wajahnya berubah, tapi secepat itu pula ia kembali tersenyum lebar lagi. 

"Pake telor tiga ya berarti. Kalo pake telor empat namanya istimewa," sahutku asal sambil membuang wajah karena itu satu - satunya kalimat terbaik yang bisa kuucapkan saat suasana awkward ini kembali lagi.

"Pake telor dua juga udah spesial kok," 

Dan kami pun bertatapan lalu sama - sama tertawa menanggapi obrolan yang semakin random itu. 

"Makasih udah ngajak jalan - jalan ya, Nji. Maaf jadi kemaleman banget. Aku jadi bener - bener ngerepotin.." ujarku pelan saat Panji sudah memarkirkan mobilnya di lobby apartemenku. 

Jam sudah menunjukkan pukul satu pagi. Itu artinya aku menghabiskan waktu hampir lima jam bersama Panji yang baru aku kenal dua minggu belakangan ini. Such a good progress, Dyta, pikirku. Karena sejujurnya aku bukan tipe orang yang mudah membuka diri pada orang yang baru kukenal.

Tapi Panji memang berbeda. Pembawaannya santai dan obrolan kami seolah - olah seperti dua orang yang sudah saling mengenal lama. Singkatnya, kami nyambung. 

"Serius engga ngerepotin sama sekali. Kebetulan juga aku free, lumayan jadi tour guide buat orang Jakarta.." balasnya sambil tersenyum. Aku pun ikut tersenyum mendengar jawabannya yang selalu polite dan santai. 

"Rumah kamu gak jauh kan dari sini?" tanyaku, sedikit khawatir. 

"Engga kok, deket banget. Paling 10 menit sampe. Sampe kamar malah.."

"Hati - hati yah. Kabarin sampe rumah.."
Satu kalimat yang meluncur bebas dari mulutku tanpa kusadari itu membuatku sejenak terdiam. Rasanya aku ingin menarik kembali kalimat itu. Ini adalah salah satu kebiasaan yang memang sulit kuubah, minta dikabari siapapun yang mengantarku pulang ke rumah. Rasanya kalimat ini sudah jadi 'template' setelah mengucapkan terima kasih. Tapi masalahnya ini Panji, yang baru aku kenal lima dua minggu yang lalu. 

Sontak ada perasaan tak enak yang menjalariku. Aku perlahan mengalihkan pandangan dan wajahku, menghindari Panji. 

Tak kuduga, ia mengeluarkan ponsel dari saku celananya lalu menyodorkannya padaku. Aku menatapnya, bingung. 

"Sok masukin nomor kamu. Gak mungkin kan aku kabarin lewat security apartemen 'Pak tolong sampein ke Radyta saya sudah mendarat di kasur dengan selamat,'" jawabnya sambil menirukan.

Lagi - lagi, satu balasan darinya yang tak kuduga. Aku tersenyum lebar, lalu meraih ponsel nya. 

No comments:

Post a Comment