Dari awal aku tahu, dia bukan asli Bandung. Aku juga tahu, pria yang tempo hari menjemputnya di kantor adalah mantan kekasihnya. Semua itu terlihat memang dari gesturnya saat ia berpamitan denganku, juga Mang Udin, seolah tidak ingin membuat orang lain menunggu. Tetapi, dia memang begitu adanya, bahkan kepada orang yang baru ia kenal. Terlalu baik, tapi dia menang baik, polos, apa adanya dan tidak dibuat - buat.
Setelah pertemuan pertamaku dengannya di PVJ tempo hari, Fadly sekilas memang menceritakan tentang dia, Radyta, sebagai "Team Leader IT di kantor urang, yang kayak anak IT. Geulis, sopan, ramah, baik pisan euy gak kayak orang Jakarta kebanyakan." Memang benar semua itu adanya yang dikatakan Fadly.
Rangga pun berpendapat hal yang sama, karena sepanjang makan siang kami bersama waktu itu, Dyta memang selalu berusaha menjawab pertanyaan dengan sopan, tidak hanya itu, ia juga selalu tersenyum, bahkan kadang mengerti beberapa topik pembicaraan kami. Satu hal yang aku yakin pasti, dia memang sosok yang cerdas.
Lalu hari ini, tepatnya pagi ini, aku melihatnya duduk di sebuah coffee shop yang memang berseberangan dengan apartemennya. Tidak heran kalau ia memilih tempat itu, karena paling mudah dijangkau. Awalnya aku sempat berpikir kalau pria yang duduk bersamanya adalah mantan kekasihnya yang waktu itu menjemputnya. Tapi entah mengapa perasaan lega itu tiba - tiba muncul saat aku mengetahui kalau pria itu ternyata adiknya yang baru datang dari Semarang.
Berharap bisa bertemu lagi dengan Dyta siang hari setelah aku selesai dengan sesi photoshoot, ternyata ia sudah pulang lebih awal saat aku turun, berniat untuk menemuinya lagi. Aku pun memutuskan untuk menghubunginya malam hari. Lalu, entah memang Semesta yang mendukung, ia setuju saat kutawari makan malam bersama, tentunya juga dengan adiknya, Ado yang ternyata benar - benar tidak sesuai dengan perkiraanku. Kupikir aku bakal susah untuk mengobrol dengannya, tapi sebaliknya, kami benar - benar bisa membicarakan banyak hal walaupun bisa kutebak, ia jauh dibawah umurku sekarang.
Setelah berpindah dari salah satu cafe di daerah Dago ke sebuah beer garden di daerah Riau, Ado seringkali memulai pembicaraan terlebih dahulu denganku. Benar - benar aku mengerti sekarang, kalau kakak beradik ini memang punya tingkat kecerdasan yang agak 'superior,' tidak hanya itu, mereka berdua memang cukup kritis dan sangat open minded.
"Ada car free day gak sih, Bang di Bandung?" tanya Ado sambil meneguk lagi botol kedua beernya.
"Ada kok, ada. Tiap Minggu pagi, mulai jam enam kayaknya deh. Di Dago situ starting pointnya," jawabku. "Mau CFD besok?" tanyaku, yang sudah berniat untuk menemaninya kalau - kalau Ado memang mau.
"Boleh deh, lumayan jalan - jalan pagi di Bandung," jawab Ado lagi, "Ikut gak, Dyt?" Ado menoleh pada Dyta yang masih asyik melihat buku menu karena ingin memesan snacks.
"Kita gak Gereja pagi besok?" ujar Dyta, benar - benar santai dan tenang.
Sekejap perasaan nyeri di dadaku mendadak muncul.
Deg. Aku bisa merasakan dan mendengarnya dengan jelas. Aku pun langsung menoleh, membuang pandanganku sebentar dari Ado dan Dyta. Dari sejak awal aku bertemu dengannya di PVJ waktu itu, aku tahu ia sudah pasti tidak seiman denganku. Sebelum ia makan, ia berdoa dengan cara yang berbeda dariku. Begitu juga tadi, saat kami makan malam bersama. Tapi entah mengapa, mendengar ucapannya langsung seperti tadi membuat suatu perasaan aneh itu muncul.
"Gereja sore aja lah, gak apa - apan kan lo?" Suara Ado bisa kudengar dengan jelas, tapi aku masih memusatkan perhatianku ke sudut lain. Aku mencoba mengatur nafas dengan amat pelan.
"Gak apa - apa sih, santai kok," jawab Dyta.
Aku pun menghela nafas pelan, beruntung suara musik dan speaker di tempat ini cukup keras, sehingga mereka bisa jadi tak menyadari kegugupanku sedari tadi. Aku pun mencoba mengatur nafas lagi, setelah yakin semuanya tenang, aku memberanikan untuk menatap ke arah Ado terlebih dahulu.
"Gimana, Bang, mau ikutan juga? Aku kayaknya mau deh CFD besok," ujar Ado bersemangat, wajahnya sumringah. Aku pun ikut sumringah melihat raut wajah Ado yang juga tampak excited.
Aku pun tersenyum padanya, "Boleh dong, besok pagi ya."
"Mantap nih Bang Panji."
Aku hanya bisa tersenyum kecil, lalu mengalihkan perhatianku pada Dyta.
Sejenak aku berpikir, kenapa semua ini bisa terjadi juga di kehidupan nyata?
No comments:
Post a Comment