Aku sedang menunggu Ado selesai mandi saat tiba - tiba ponselku berbunyi nyaring lagi. Aku dan Ado memang berencana untuk jalan - jalan di sekitar kota Bandung, sekaligus mencari makan malam. Aku melihat layar ponselku dan tersenyum lebar. Panji.
"Halo?" sapaku pelan, dari ruang tamu aku bisa mendengar suara Ado yang sibuk bernyanyi keras - keras, walaupun kuakui suara Ado memang tidak jelek. Aku pun cepat - cepat masuk ke kamar dan menutup pintu agar suara Ado tidak 'bocor' sampai ke Panji.
"Halo, Dyt... Lagi dimana?" tanya Panji.
"Di apartemen kok ini, Nji. Kenapa?" tanyaku balik.
"Mau ngajak kamu sama Ado makan malem bareng. Keluar yuk, mau?"
Aku bisa merasakan kehangatan Panji walaupun tidak sedang menatapnya. Tanpa kusadari, aku tersenyum lebar dan salah tingkah sendiri.
"Aku sama Ado emang mau cari makan sih ini, lagi nunggu dia selesai mandi.."
"Ya udah, pas kan, aku kesana ya, jemput kalian berdua. Sepuluh menit sampe kok."
"Gak apa - apa emang? Jemput kita?" tanyaku, setengah tidak enak.
"Gak apa - apa, Neng.." jawab Panji lembut yang makin membuatku salah tingkah.
Lalu tiba - tiba pintu kamarku terbuka lebar, "Dyt, mau makan dimana nih? Biar gue tau mau pake baju apa," seru Ado yang sepertinya tidak memperhatikan kalau aku sedang menelepon.
Dari seberang aku bisa mendengar Panji tertawa. Aku pun langsung menoleh pada Ado dan mengisyaratkan padanya untuk diam sebentar. Ado pun langsung mengacungkan jempolnya sambil tersenyum kecil lalu kembali menutup pintu kamarku.
"Bilang aja, pake baju yang casual rapi, sama sepatu," ujar Panji.
"Hehe, kedengeran ya sampe sana," Aku menggigit bibir bawahku, setengah malu.
"Gak apa - apa lah, santai kok," jawab Panji lagi sambil tertawa pelan, "Ya udah, aku jalan kesana ya sekarang.."
Segera setelah Panji menutup sambungan telepon, aku bergegas menuju kamar Ado. Tentunya, tidak lupa mengetuk pintu kamarnya terlebih dahulu. Tidak seperti dia yang selalu kebiasaan masuk kamarku tanpa mengetuk. Tapi, berhubung aku memang tidak terlalu mempermasalahkan hal itu, jadi sampai sekarang pun Ado masih melakukan kebiasaan yang sama.
"Pake baju yang casual rapi, terus pake sepatu ya," ujarku pada Ado, mengulangi kalimat Panji.
"Mau makan dimana sih?" tanya Ado, sambil sibuk mengeluarkan beberapa baju dari tas ranselnya.
"Gak tau gue, yang jelas makan bareng Panji." jawabku lagi sambil merebahkan tubuhku di atas kasur Ado, "Panji yang tadi pagi ketemu di coffee shop," sambungku lagi, kalau - kalau Ado lupa.
"Dia tuh yang jadi model di videonya Andhito bukan sih, Dyt?" tanya Ado yang ternyata juga menyadarinya. Aku tersenyum menatap Ado sambil mengangguk. "Kok lo bisa kenal sama dia? Gimana ceritanya?"
Aku pun menceritakan dengan singkat awal pertemuan dengan Panji, dimulai dari Fadly, teman sekantorku yang mengajakku makan siang bersama dan akhirnya bertemu, hingga berkenalan dengan Panji juga Rangga.
"Anyway, mantan lo dulu yang orang Bandung siapa namanya?" tanya Ado lagi, sambil bercermin dan melihat penampilannya. Menurutku, dia sudah cukup rapi, dan seperti biasa selalu tampan, tidak bercacat. Aku juga tidak mengerti darimana Ado bisa 'bergaya' sempurna seperti itu.
"Tyo," jawabku pendek.
"Ah iya, masih ketemu lo sama dia?"
"Kemarin sempet ketemu kok, dia jemput gue ke kantor,"
"Awas balikan," ledek Ado lagi sambil menatapku jahil dari balik cermin.
"Jangan mulai," ujarku sambil menatapnya sengit setengah bercanda.
"Ribet, Dyt kalo lo galau.." ucap Ado diakhiri dengan tawa lebar. Aku pun melemparnya dengan bantal yang berhasil ditangkapnya.
"Emang rese banget si lo, Do.. Asli deh.."
Segera setelah Panji menutup sambungan telepon, aku bergegas menuju kamar Ado. Tentunya, tidak lupa mengetuk pintu kamarnya terlebih dahulu. Tidak seperti dia yang selalu kebiasaan masuk kamarku tanpa mengetuk. Tapi, berhubung aku memang tidak terlalu mempermasalahkan hal itu, jadi sampai sekarang pun Ado masih melakukan kebiasaan yang sama.
"Pake baju yang casual rapi, terus pake sepatu ya," ujarku pada Ado, mengulangi kalimat Panji.
"Mau makan dimana sih?" tanya Ado, sambil sibuk mengeluarkan beberapa baju dari tas ranselnya.
"Gak tau gue, yang jelas makan bareng Panji." jawabku lagi sambil merebahkan tubuhku di atas kasur Ado, "Panji yang tadi pagi ketemu di coffee shop," sambungku lagi, kalau - kalau Ado lupa.
"Dia tuh yang jadi model di videonya Andhito bukan sih, Dyt?" tanya Ado yang ternyata juga menyadarinya. Aku tersenyum menatap Ado sambil mengangguk. "Kok lo bisa kenal sama dia? Gimana ceritanya?"
Aku pun menceritakan dengan singkat awal pertemuan dengan Panji, dimulai dari Fadly, teman sekantorku yang mengajakku makan siang bersama dan akhirnya bertemu, hingga berkenalan dengan Panji juga Rangga.
"Anyway, mantan lo dulu yang orang Bandung siapa namanya?" tanya Ado lagi, sambil bercermin dan melihat penampilannya. Menurutku, dia sudah cukup rapi, dan seperti biasa selalu tampan, tidak bercacat. Aku juga tidak mengerti darimana Ado bisa 'bergaya' sempurna seperti itu.
"Tyo," jawabku pendek.
"Ah iya, masih ketemu lo sama dia?"
"Kemarin sempet ketemu kok, dia jemput gue ke kantor,"
"Awas balikan," ledek Ado lagi sambil menatapku jahil dari balik cermin.
"Jangan mulai," ujarku sambil menatapnya sengit setengah bercanda.
"Ribet, Dyt kalo lo galau.." ucap Ado diakhiri dengan tawa lebar. Aku pun melemparnya dengan bantal yang berhasil ditangkapnya.
"Emang rese banget si lo, Do.. Asli deh.."
No comments:
Post a Comment