Tuesday, March 24, 2020

Prolog

Bandung, 2017 
02.30 

Ada sebuah perasaan yang tak bisa kuungkapkan saat kami berdua saling menatap. Entah sudah berapa lama aku menahan air mataku untuk tidak terjatuh bebas. Tyo menatapku dan berusaha meraih tanganku. Aku pun menggeser perlahan tanganku agar bisa menyentuhnya. Walaupun akhirnya jari - jari kami saling bersentuhan, tak satupun yang berani untuk mulai menggenggam. 

Sudah hampir setengah jam mungkin, kami hanya duduk berhadapan, terdiam dan mendengan helaan nafas masing - masing. Aku sudah mengetahui bahwa hari ini adalah akhir dari hubungan kami. Tapi entah mengapa, aku tak ingin memulainya. Karena sejujurnya, aku tidak sanggup untuk menjadi yang pertama mengakhirinya.

"Buat ngomongin hal ini sama kamu aja, aku rasanya gak mampu, Dyt....." Tyo akhirnya memecah keheningan itu lalu menghela nafas panjang lagi. Aku membenarkan posisi dudukku sebagai isyarat bahwa aku siap mendengarkannya.

"Aku dengerin kok, pelan - pelan aja," Aku mencoba tersenyum kecil sambil menatapnya, walaupun aku tahu, tatapanku saat ini pasti benar - benar nanar.

"Aku sampe sholat tahajud, Dyt. Aku bener - bener minta petunjuk waktu itu supaya bisa dapet solusi yang bisa bikin kita berdua sama - sama enak. Sampe akhirnya Ibu dateng ke mimpi aku.." Tyo menghentikan kalimatnya, lalu langsung meraih tanganku dan menggenggamnya erat.

Kami berdua bertatapan. Aku melihat matanya yang mulai berkaca - kaca. Selama dua tahun terakhir menjalani hubungan, belum pernah aku melihatnya berkaca - kaca, apalagi menangis. Tapi hari ini memang semuanya menjadi berbeda. Berkali - kali aku mencoba untuk tetap tenang dan mengatur nafas, walaupun rasanya ingin aku menangis histeris saat itu juga.

"Aku inget banget dengan jelas, Ibu bilang kalo kamu emang anak baik - baik. Tapi kalo bisa aku dapet yang seiman, Dyt. Karena sekarang aku cuma tinggal berdua aja sama Bapak. Aku gak mungkin bebanin pikiran Bapak."

Setelah mendengar penjelasan itu, aku tidak bisa lagi menahan air mataku. Aku menangis. Tyo pun langsung beranjak dan memelukku. Aku bisa merasakan ia mencium kepalaku berkali - kali, tak bisa kuhitung jumlahnya. Ia mendekapku erat, sambil dengan sabar menungguku untuk lebih tenang. Aku memeluknya, mencoba sekuat mungkin untuk menenangkan diriku, tapi rasanya sulit sekali.

Harus menerima sesuatu hal yang tidak pernah aku inginkan, adalah satu - satunya  ujian hidup yang mungkin saat ini tak bisa kuselesaikan dengan baik. Berkali - kali aku mencoba menegarkan diriku, tapi tetap saja aku mengakhirinya dengan tangisan. Aku menarik nafas panjang sebelum akhirnya melepas pelukan Tyo. Aku menatapnya sebentar, menatap wajah laki - laki yang selama dua tahun terakhir menemani hari - hariku. Walaupun harus menjalani long distance relationship antara Jakarta dengan Bandung, semuanya terasa lebih mudah kurasakan karena Tyo adaalah partner yang sangat baik.

Aku tersenyum padanya. Ada sebuah perasaan lega saat aku menatap wajahnya. Satu hal yang aku tahu pasti, semua ini adalah solusi terbaik untuk kami berdua.

"Aku ikhlas, Yo.." jawabku pelan, amat pelan dengan sedikit bergetar. Saat itu juga aku melihat Tyo menitikkan air mata dari pelupuk matanya. Ia tidak terisak, ia menangis dalam diam sambil tersenyum lalu memelukku. Aku kembali memeluknya erat. Mengusap - usap punggungnya pelan dan berkata bahwa semua akan baik - baik saja karena bagaimanapun ini adalah jalan yang paling baik untuk kami berdua.

"Aku bener - bener ikhlas kok, Yo. Aku sayang sama kamu, tapi aku gak mungkin egois. Aku gak mungkin bikin kamu ngorbanin Bapak..." Itulah satu - satunya kalimat yang sanggup kukatakan pada Tyo agar ia bisa menenangkan dirinya juga.

"Aku tau, Dyt. Aku tau. Makasih kamu baik banget sama aku, sama Bapak. Makasih ya, Dyt. Aku sayang banget sama kamu..." Tyo semakin erat memelukku seakan ia tidak ingin melepasku. Aku pun demikian. Aku benar - benar tidak tahu apa yang menungguku di depan tanpa Tyo. "Besok sebelum pulang ke Jakarta, kamu ke Gereja dulu kan?" tanya Tyo pelan. Aku menjawabnya dengan anggukan kecil. "Aku anterin ya. Aku tungguin sampe kamu selesai baru kita ke Stasiun sama - sama," sambung Tyo lagi.

Aku tidak ingin menolaknya.
Karena aku tahu, penolakanku juga pasti tidak akan ia terima.  

No comments:

Post a Comment