Wednesday, March 25, 2020

Radyta | Satu

Suasana Gereja HKBP Cijantung siang itu benar - benar ramai. Hari ini, sahabatku sejak kuliah di Bandung dulu, Ola, resmi bertunangan dengan salah satu senior kamu di kampus dahulu. Aku bersama tiga sahabatku yang lain, Tasya, Angel dan Christine tentunya datang untuk merayakan hari bahagia itu. 

Kami berlima pertama kali berkenalan sebagai "teman satu jurusan" di Bandung. Bukan hanya teman satu jurusan, tapi juga teman satu asrama, teman satu kost, dan tentunya teman seiman. Walaupun mereka berempat beragam Kristen, dan aku beraga Katolik, tapi seringkali kami melakukan ibadah bersama, atau malah saling menemani ke Gereja setiap hari Minggu. Aku, Ola dan Tasya berasal dari Jakarta. Sementara Angel berasal dari Riau dan Christine dari Medan. Uniknya, kami berlima sama - sama berdarah Batak. Walaupun aku hanya setengah Batak, tapi kurang lebih aku tahu sedikit banyak tentang adat Batak.

"Siapa nih yang bakal nyusul Ola?" tanya Tasya di sela - sela acara, sambil menunggu antrian untuk bersalaman dengan Ola dan keluarga.

"Christine sih gue yakin banget!" jawab Angel, seperti biasa yang selalu ceplas - ceplos dan apa adanya.

"Aduh, masih jauh itu..." jawab Christine yang memang sedang bingung dengan hubungannya saat ini. Singkat cerita memang yang aku tahu, Christine menjalani hubungan dengan laki - laki berdarah Jawa tulen. Bisa kubayangkan, kadang bukan hanya agama yang menjadi penghalang, tetapi adat juga.

Akhirnya kami pun sampai ke depan Altar dan langsung memeluk Ola erat - erat. Tampak jelas rona bahagia di wajah Ola. Selama ini, diantara kami berlima, memang Ola yang punya pemikiran lebih dewasa. Ia mampu berpikir jernih di setiap kendala yang sedang dihadapi. Satu hal yang selalu kukagumi dari Ola adalah, bahwa dia selalu percaya kalau Tuhan selalu ikut campur tangan di setiap permasalahan kita. Bukan cuma sekedar memberi ujian, tapi juga pelajaran batin.

"Dyt, cepet nyusul ya," bisik Ola pelan saat aku memeluknya. Aku mengangguk, lalu tersenyum kembali menatapnya yang begitu cantik dengan kebaya dan Ulos nya.

"Doain ya, La.." ucapku pelan.

"Pasti."

Selesai menghadiri acara Ola, kami berempat pun memutuskan untuk makan malam bersama di salah satu mall di Jakarta. Banyak hal yang kami bicarakan, mulai dari pekerjaan, masalah cinta - cintaan, sampai gosip. Walaupun aku tidak terlalu suka membicarakan orang  lain, aku hanya ikut menyimak sambil tertawa jika ada hal lucu yang mereka ceritakan.

"Dyt, kau kenapa putus sama si Mas itu? Bukannya udah enak satu agama kalian?" tanya Angel yang tiba - tiba mengalihkan pembicaraan dengan logat Bataknya yang kental.

"Iya kenapa sih, Dyt.. Sayang banget tau," balas Tasya lagi, sementara Christine hanya tersenyum jahil padaku sambil menaikkan kedua alisnya, tanda menunggu jawaban.

"Ya gimana, enggak cocok. Gak bisa dipaksa juga," jawabku santai. Karena sejujurnya, aku sudah lama move on dari mantanku yang terakhir, Richard.

"Sayang banget.. Tapi udah lama juga ya kalian putus?" tanya Christine.

"Iya, udah sekitar 8 bulan kok. Sekarang lebih santai aja sih, emang gue gak mau maksa juga. Kalo enak ya jalanin terus, kalau jadi beban mendingan gak usah lanjut.." jawabku lagi, lalu tersenyum.

"Bener banget tuh. Setuju gue," ceplos Angel.

"Kau gimana sama si Bang Andre? Terus - terusan putus - sambung, putus - sambung lagi," ujar Christine pada Angel.

"Ah gak usah kujelaskan lah ya. Udah banyak kali drama kami kan, bosan kalian nanti.." jawab Angel lagi diikuti dengan tawa dari kami bertiga.

Salah satu hal yang kurindukan dari Bandung adalah kenangan bersama mereka. Untungnya kami berlima sekarang sudah sama - sama bekerja di Jakarta. Walaupun sulit berkumpul saat pulang kerja atau weekend, tapi setidaknya momen ini mengembalikan rasa rindu pada Bandung. 

No comments:

Post a Comment