Tuesday, March 31, 2020

Panji | Tiga

Saat aku sedang bersiap - siap menuju apartemen Dyta, untuk menjemput Ado karena kami sepakat akan CFD bersama, ponselku bergetar. Aku melihat nama Dyta muncul, dan aku memang benar - benar tidak bisa menyembunyikan perasaan senangku saat itu. Sontak, aku tersenyum. 

"Halo? Iya, Dyt.." ujarku. 

"Nji.. Ini Ado belum bangun - bangun. Duh, apa kamu gak usah kesini aja dulu?" Terdengar nada cemas dari suara Dyta. 

"Gak apa - apa, aku tungguin aja disana. Ini aku udah mau berangkat kok," jawabku santai, walaupun sebenarnya aku tidak ingin rencana ini batal, karena aku ingin sekali melihatnya hari ini. 

"Ya udah, kamu kesini aja dulu. Kalo udah di lobby kabarin ya, nanti aku jemput. Bisa setengah jam lagi ini kayaknya nunggu Ado bangun," 

Aku tersenyum lebar mendengar suaranya. Bisa kubayangkan ekspresi wajahnya di seberang sana yang sedang cemas serta tidak enak padaku. Tipikal Dyta, selalu mudah tidak enak pada orang lain. Mungkin karena ia memang selalu lebih memikirkan orang lain daripada dirinya sendiri. Ini adalah salah satu hal yang tidak banyak kulihat dari beberapa wanita kebanyakan.

Lima belas menit kemudian, aku sudah sampai di lobby apartemennya dan mendapati dirinya sudah menunggu disana. Aku tidak bisa mengontrol ekspresi wajahku saat melihatnya masih memakai piyama berwarna kuning muda. Ia pun tersenyum, menyambutku, seperti biasa dengan hangat walaupun aku bisa melihat ada sedikit perasaan 'tidak enak' darinya.

"Maaf ya, udah bikin kamu pagi - pagi kesini, eh yang pengen CFD masih tidur pules," ujarnya setengah cemberut.

"Gak apa - apa kok, santai aja. Kan CFD nya sampe jam sembilan juga, berangkat jam tujuh masih sempet kok," Aku tidak bisa menahan diriku untuk menatapnya dan tersenyum padanya.

"Kamu udah sholat subuh kah?" tanya Dyta pelan sambil menekan tombol lift. Aku cukup terkejut dengan pertanyaan itu, sontak aku langsung melihat ke arahnya, lalu ia tersenyum sambil menaikkan alis, seperti menunggu jawabanku, "Kalau belum, ada sajadah kok di tempat aku, kayaknya dari pemilik sebelumnya. Masih bersih juga, bisa kamu pake,"

Aku menatapnya dalam - dalam, ada tahu kalau ia mengucapkan itu semua dengan tulus, semata - mata karena ia memang perhatian denganku. Aku pun mengangguk, tak bisa kujawab pertanyaannya yang sangat sederhana itu. Aku memang belu sholat subuh pagi ini, mungkin karena terlalu bersemangat ingin melihatnya. "Nanti aku pinjem ya," Hanya itu kalimat terbaik yang bisa kuberikan padanya.

Kami berdua pun masuk ke dalam ruangan apartemennya. Ini pertama kalinya aku masuk kesana. Cukup mewah, dari segi interior dan penataan, juga furniture. Dan yang pasti, ruangan itu terkesan sangat lowong jika hanya ditempati Dyta seorang diri. Ia masuk ke dalam kamarnya sebentar lalu kembali lagi sambil membawa sajadah yang ia bicarakan tadi.

"Sholat di kamar aku aja, ada arah kiblatnya," Ia menyodorkan sajadah itu padaku lalu tersenyum, "Aku sambil bangunin Ado lagi ya,"

Aku mengangguk, lalu beranjak menuju kamar tidurnya, sementara ia berjalan menuju sebuah kamar yang ukurannya lebih kecil, yang terletak persis di seberang kamar tidurnya. Aku pun memasuki kamar Dyta sambil menghela nafas. Di samping tempat tidurnya aku bisa melihat sebuah bingkai foto polos, yang merupakan foto keluarganya, karena Ado ada disitu.

Allaahummahdinii fii man hadaiit, wa aafinii fii man aafaiit, wa tawallanii fi man tawallaiit, wa baarik lii fiimaa a’thaiit. Wa qinii syarra maa qadhaiit. Fa innaka taqdhii wa laa yuqdhaa ‘alaiik. Innahu laa yadzillu maw waalaiit.

Ya Allah, berilah aku petunjuk seperti orang-orang yang telah Engkau beri petunjuk. Berilah aku kesehatan seperti orang yang telah Engkau beri kesehatan. Pimpinlah aku bersama-sama orang-orang yang telah Engkau pimpin. Berilah berkah pada segala apa yang telah Engkau pimpin.

Aku mengakhiri rangakain sholatku dengan Salam lalu berdzikir sejenak. Setelah selesai, langsung mengarahkan pandanganku ke arah pintu kamar. Kudapati Dyta sudah berdiri disitu, entah sudah berapa lama, karena posisiku membelakanginya. Ia tersenyum. Aku pun beranjak mendekatinya. Ia pun berjalan masuk ke dalam sambil terus memandangiku.

Aku menghela nafas pendek. Jarak kami berdua tak lebih dari tiga puluh sentimeter. Aku menatap matanya sekali, mengucapkan Bismillahirrahmanirahim dalam hati, lalu memeluknya. Ia pun langsung mendekapktu juga cukup erat sampai bisa merasakan wangi rambutnya lalu tersenyum dari balik tubuhnya.

Tenang, itu lah satu kata yang bisa kurasakan saat aku mendekapnya. Aku benar - benar tenang, tidak ada perasaan gelisah, atau setidaknya aku tidak memikirkan apapun yang ada diantara kami saat aku memeluknya. Perlahan aku pun melepas pelukanku, menatapnya lalu mencium keningnya.

Ia tersenyum, lalu aku kembali mendekapnya.

"Nji," panggilnya pelan, Aku pun melepaskan pelukanku lalu menatap matanya, yang berbinar seperti anak kecil polos.

"Iya, Dyt," jawabku sambil tersenyum lalu membelai pelan kepalanya.

"Tadi doain aku nggak?"

Aku lagi - lagi tak bisa menjawab pertanyaan sederhana itu. Aku kembali mencium keningnya lalu mendekapnya, sekali lagi.
Ya Allah, tolong jangan yang satu ini, pintaku dalam hati. 

Monday, March 30, 2020

Panji | Dua

Aku membuka pintu rumah dan berjalan memasuki ruang tamu. Hampir semua lampu sudah dimatikan. Aku yakin Ibu pasti juga sudah tidur. Aku pun menyalakan lampu tengah, lalu mengambil remote TV. Pikiranku kosong, rasanya masih tertinggal di dalam mobil. Aku menghela nafasku panjang sambil mengingat bagaimana ekspresi wajahnya setiap kali ia menceritakan sesuatu, atau setiap kali ia tersenyum dan tertawa. Aku juga tidak bisa menghilangkan wajahnya di kepalaku setiap kali mengingat bagaimana ia mendengarkanku dengan seksama setiap kali aku berbicara sesuatu. 

"Nji, kok sendirian aja disini?" Suara halus Ibu memecah keheningan dan membuyarkan pikiranku. Aku pun menengok ke arah suara itu dan tersenyum melihat Ibu yang berjalan mendekatiku. 

"Iya, Bu.. Kok Ibu belum tidur?" Aku pun beranjak dan mencium tangan Ibu. 

"Kedengeran tadi suara mobil kamu masuk garasi," jawab Ibu sambil mengambil posisi duduk persis di sebelahku. "Tadi Nida dateng kesini, Nji.." 

Aku menatap Ibu lagi, aku sama sekali tidak tahu kalau Nida hari ini datang ke rumahku. "Oh, iya? Panji gak tau. Ada apa, Bu dia kesini?" tanyaku, yang sebenarnya heran dengan sikap Nida, tapi berusaha untuk tetap tenang di depan Ibu. 

"Ngirim makanan aja, katanya ada syukuran anak kakaknya," jawab Ibu. Lalu Ibu meraih tanganku perlahan dan menggenggamnya, "Kenapa sih, Nji antara kamu sama Nida? Ibu nggak pernah tau, sekarang Ibu mau tau." 

Aku pun perlahan melepas genggaman tangan Ibu dan merangkulnya hangat, "Namanya enggak cocok, Bu.. Kan enggak bisa dipaksa kalau nggak cocok," jawabku lagi. 

"Tapi kalian teh sebenernya udah ngomong berdua belum sih? Karena Ibu ngerasa dia masih berharap sama kamu, Nji. Ibu kan jadi nggak enak sama dia. Ada perasaaan gimana gitu.." Terlihat ada kecemasan dibalik perkataan Ibu. 

"Udah selesai, Bu dari berbulan - bulan yang lalu. Sebenernya Panji udah mau ngomong sama dia lama, tapi kan dia masih harus Ujian Dokter waktu itu, jadi enggak tega. Ya udah, baru bisa diomongin sekitar empat bulan yang lalu sama dia.." jawabku berusaha menjelaskan tanpa masuk terlalu dalam kepada Ibu. 

"Apa karena Nida cemburu kamu syuting video clip itu, Nji?" 

Aku tertawa kecil, "Enggak lah, Bu.. Bukan masalah itu. Emang udah dari lama Panji ngerasa engga cocok, cuma bener - bener baru diomongin ya empat bulan lalu sama dia.." Aku mengulangi lagi, supaya setidaknya Ibu mengerti bahwa hubunganku dengan Nida selesai bukan karena masalah orang ketiga, tapi lebih jauh dari itu. 

Ibu pun tersenyum lalu beranjak dari duduknya, "Si Aa tuh setiap hari nanyain terus ke Ibu, 'Panji kapan, Bu? Panji kapan, Bu?' Ibu sampe bingung harus jawab apa ke Aa. Akhirnya Ibu bilang aja, 'sok tanyakeun langsung ke Panji. Anaknya aja masih sibuk kerja terus setiap hari,'"

"Iya, nanti biar Panji telepon Aa ya, Bu.." ucapku sambil tersenyum berusaha melegakan hati Ibu. Ibu pun akhirnya berpamitan untuk tidur duluan, sementara aku masih ingin duduk di ruang tengah sambil kembali memikirkan dia, Radyta. 

Panji | Satu

Dari awal aku tahu, dia bukan asli Bandung. Aku juga tahu, pria yang tempo hari menjemputnya di kantor adalah mantan kekasihnya. Semua itu terlihat memang dari gesturnya saat ia berpamitan denganku, juga Mang Udin, seolah tidak ingin membuat orang lain menunggu. Tetapi, dia memang begitu adanya, bahkan kepada orang yang baru ia kenal. Terlalu baik, tapi dia menang baik, polos, apa adanya dan tidak dibuat - buat. 

Setelah pertemuan pertamaku dengannya di PVJ tempo hari, Fadly sekilas memang menceritakan tentang dia, Radyta, sebagai "Team Leader IT di kantor urang, yang kayak anak IT. Geulis, sopan, ramah, baik pisan euy gak kayak orang Jakarta kebanyakan." Memang benar semua itu adanya yang dikatakan Fadly. 

Rangga pun berpendapat hal yang sama, karena sepanjang makan siang kami bersama waktu itu, Dyta memang selalu berusaha menjawab pertanyaan dengan sopan, tidak hanya itu, ia juga selalu tersenyum, bahkan kadang mengerti beberapa topik pembicaraan kami. Satu hal yang aku yakin pasti, dia memang sosok yang cerdas. 

Lalu hari ini, tepatnya pagi ini, aku melihatnya duduk di sebuah coffee shop yang memang berseberangan dengan apartemennya. Tidak heran kalau ia memilih tempat itu, karena paling mudah dijangkau. Awalnya aku sempat berpikir kalau pria yang duduk bersamanya adalah mantan kekasihnya yang waktu itu menjemputnya. Tapi entah mengapa perasaan lega itu tiba - tiba muncul saat aku mengetahui kalau pria itu ternyata adiknya yang baru datang dari Semarang. 

Berharap bisa bertemu lagi dengan Dyta siang hari setelah aku selesai dengan sesi photoshoot, ternyata ia sudah pulang lebih awal saat aku turun, berniat untuk menemuinya lagi. Aku pun memutuskan untuk menghubunginya malam hari. Lalu, entah memang Semesta yang mendukung, ia setuju saat kutawari makan malam bersama, tentunya juga dengan adiknya, Ado yang ternyata benar - benar tidak sesuai dengan perkiraanku. Kupikir aku bakal susah untuk mengobrol dengannya, tapi sebaliknya, kami benar - benar bisa membicarakan banyak hal walaupun bisa kutebak, ia jauh dibawah umurku sekarang. 

Setelah berpindah dari salah satu cafe di daerah Dago ke sebuah beer garden di daerah Riau, Ado seringkali memulai pembicaraan terlebih dahulu denganku. Benar - benar aku mengerti sekarang, kalau kakak beradik ini memang punya tingkat kecerdasan yang agak 'superior,' tidak hanya itu, mereka berdua memang cukup kritis dan sangat open minded

"Ada car free day gak sih, Bang di Bandung?" tanya Ado sambil meneguk lagi botol kedua beernya. 

"Ada kok, ada. Tiap Minggu pagi, mulai jam enam kayaknya deh. Di Dago situ starting pointnya," jawabku. "Mau CFD besok?" tanyaku, yang sudah berniat untuk menemaninya kalau - kalau Ado memang mau. 

"Boleh deh, lumayan jalan - jalan pagi di Bandung," jawab Ado lagi, "Ikut gak, Dyt?" Ado menoleh pada Dyta yang masih asyik melihat buku menu karena ingin memesan snacks. 

"Kita gak Gereja pagi besok?" ujar Dyta, benar - benar santai dan tenang. 

Sekejap perasaan nyeri di dadaku mendadak muncul. 
Deg. Aku bisa merasakan dan mendengarnya dengan jelas. Aku pun langsung menoleh, membuang pandanganku sebentar dari Ado dan Dyta. Dari sejak awal aku bertemu dengannya di PVJ waktu itu, aku tahu ia sudah pasti tidak seiman denganku. Sebelum ia makan, ia berdoa dengan cara yang berbeda dariku. Begitu juga tadi, saat kami makan malam bersama. Tapi entah mengapa, mendengar ucapannya langsung seperti tadi membuat suatu perasaan aneh itu muncul. 

"Gereja sore aja lah, gak apa - apan kan lo?" Suara Ado bisa kudengar dengan jelas, tapi aku masih memusatkan perhatianku ke sudut lain. Aku mencoba mengatur nafas dengan amat pelan. 

"Gak apa - apa sih, santai kok," jawab Dyta. 

Aku pun menghela nafas pelan, beruntung suara musik dan speaker di tempat ini cukup keras, sehingga mereka bisa jadi tak menyadari kegugupanku sedari tadi. Aku pun mencoba mengatur nafas lagi, setelah yakin semuanya tenang, aku memberanikan untuk menatap ke arah Ado terlebih dahulu. 

"Gimana, Bang, mau ikutan juga? Aku kayaknya mau deh CFD besok," ujar Ado bersemangat, wajahnya sumringah. Aku pun ikut sumringah melihat raut wajah Ado yang juga tampak excited. 

Aku pun tersenyum padanya, "Boleh dong, besok pagi ya." 

"Mantap nih Bang Panji." 

Aku hanya bisa tersenyum kecil, lalu mengalihkan perhatianku pada Dyta. 
Sejenak aku berpikir, kenapa semua ini bisa terjadi juga di kehidupan nyata? 

Sunday, March 29, 2020

Radyta | Lima Belas

Ternyata Panji mengajak kami berdua makan malam di salah satu cafe di daerah Dago. Yang menurutku, baru dibuka akhir - akhir ini karena selama aku kuliah, aku belum pernah melihat cafe itu sepanjang jalan di Dago. Sepanjang jalan, Ado dan Panji sibuk membahas soal karir 'modelling' Panji yang ternyata diawali dengan ketidaksengajaan. Aku pun juga baru mengetahui kalau Panji, Rangga dan Fadly berasal dari satu agensi yang sama. Jadi, setiap ada permintaan syuting seperti iklan, video clip, atau mini film yang berlatar di Bandung dan sekitarnya, agensi mereka selalu yang diutamakan. 

"Lumayan banget itu ya, Bang duitnya buat jajan kopi. Jadi gak ganggu uang gaji," ceplos Ado saat Panji selesai menjelaskan panjang lebar. 

"Banget, makanya ya enjoy juga sih jalaninnya. Nambah temen, nambah pengalaman, nambah channel kenalan juga. Jadi ya seru sih," jawab Panji saat itu. 

Kami pun makan malam bertiga dengan suasana yang tidak jauh - jauh dari mengobrol serius, bercanda, lalu tertawa bersama - sama. Sepanjang makan malam, banyak cerita dari Panji, bahkan Ado yang membuatku terkejut bahkan sampai tertawa. Satu hal yang aku baru sadari, Ado benar - benar sudah bukan 'anak kecil' lagi, karena ia hanpir bisa mengobrol banyak hal denganku, juga Panji yang punya keseharian amat berbeda dengan dirinya. Aku cukup senang karena Ado bisa menemaniku malam ini, walaupun kedatangannya ke Bandung membuat aku, Papa dan Mama sedikit 'terkejut.' 

"Kapan balik ke Semarang, Do?" tanya Panji pada Ado, saat ia sudah selesai menyantap makanan. 

"Ke Jakarta dulu sih, Bang. Mau magang juga soalnya di Jakarta," jawab Ado sambil menghabiskan suapan terakhirnya. 

"Oh gitu, kapan balik Jakarta berarti?" 

"Senin sih rencana. Soalnya minggu depan mau ke Bandung lagi, nganter Papa sama Mama ketemu ini nih si Princess Dyta," jawab Ado setengah tersenyum meledek ke arahku. Aku hanya bisa menggelengkan kepala melihat tingkahnya yang selalu jahil. 

"Oh iya? Minggu depan Papa sama Mama mau ke Bandung?" tanya Panji, tapi menatap ke arahku. 

"Rencananya sih gitu," jawabku santai. Panji pun mengangguk lalu tersenyum pada Ado. 

"Mau jalan kemana, Do? Mumpung di Bandung, biar aku anterin," ujar Panji lagi yang disambut dengan mata berbinar oleh Ado. 

"Beneran nih, Bang?" Ado langsung menatap Panji bersemangat, diikuti anggukan dari Panji, "Dyt, gue saranin lo balik aja sih, ini udah boys time..." ledek Ado lagi diikuti tawa dariku dan Panji. 

"Emang punya adek gak ada sopan - sopannya," ujarku setengah gemas pada Ado. 

Radyta | Empat Belas

Aku sedang menunggu Ado selesai mandi saat tiba - tiba ponselku berbunyi nyaring lagi. Aku dan Ado memang berencana untuk jalan - jalan di sekitar kota Bandung, sekaligus mencari makan malam. Aku melihat  layar ponselku dan tersenyum lebar. Panji.

"Halo?" sapaku pelan, dari ruang tamu aku bisa mendengar suara Ado yang sibuk bernyanyi keras - keras, walaupun kuakui suara Ado memang tidak jelek. Aku pun cepat - cepat masuk ke kamar dan menutup pintu agar suara Ado tidak 'bocor' sampai ke Panji.

"Halo, Dyt... Lagi dimana?" tanya Panji.

"Di apartemen kok ini, Nji. Kenapa?" tanyaku balik.

"Mau ngajak kamu sama Ado makan malem bareng. Keluar yuk, mau?"

Aku bisa merasakan kehangatan Panji walaupun tidak sedang menatapnya. Tanpa kusadari, aku tersenyum lebar dan salah tingkah sendiri.

"Aku sama Ado emang mau cari makan sih ini, lagi nunggu dia selesai mandi.."

"Ya udah, pas kan, aku kesana ya, jemput kalian berdua. Sepuluh menit sampe kok."

"Gak apa - apa emang? Jemput kita?" tanyaku, setengah tidak enak.

"Gak apa - apa, Neng.." jawab Panji lembut yang makin membuatku salah tingkah.

Lalu tiba - tiba pintu kamarku terbuka lebar, "Dyt, mau makan dimana nih? Biar gue tau mau pake baju apa," seru Ado yang sepertinya tidak memperhatikan kalau aku sedang menelepon.

Dari seberang aku bisa mendengar Panji tertawa. Aku pun langsung menoleh pada Ado dan mengisyaratkan padanya untuk diam sebentar. Ado pun langsung mengacungkan jempolnya sambil tersenyum kecil lalu kembali menutup pintu kamarku.

"Bilang aja, pake baju yang casual rapi, sama sepatu," ujar Panji.

"Hehe, kedengeran ya sampe sana," Aku menggigit bibir bawahku, setengah malu.

"Gak apa - apa lah, santai kok," jawab Panji lagi sambil tertawa pelan, "Ya udah, aku jalan kesana ya sekarang.."

Segera setelah Panji menutup sambungan telepon, aku bergegas menuju kamar Ado. Tentunya, tidak lupa mengetuk pintu kamarnya terlebih dahulu. Tidak seperti dia yang selalu kebiasaan masuk kamarku tanpa mengetuk. Tapi, berhubung aku memang tidak terlalu mempermasalahkan hal itu, jadi sampai sekarang pun Ado masih melakukan kebiasaan yang sama.

"Pake baju yang casual rapi, terus pake sepatu ya," ujarku pada Ado, mengulangi kalimat Panji.

"Mau makan dimana sih?" tanya Ado, sambil sibuk mengeluarkan beberapa baju dari tas ranselnya.

"Gak tau gue, yang jelas makan bareng Panji." jawabku lagi sambil merebahkan tubuhku di atas kasur Ado, "Panji yang tadi pagi ketemu di coffee shop," sambungku lagi, kalau - kalau Ado lupa.

"Dia tuh yang jadi model di videonya Andhito bukan sih, Dyt?" tanya Ado yang ternyata juga menyadarinya. Aku tersenyum menatap Ado sambil mengangguk. "Kok lo bisa kenal sama dia? Gimana ceritanya?"

Aku pun menceritakan dengan singkat awal pertemuan dengan Panji, dimulai dari Fadly, teman sekantorku yang mengajakku makan siang bersama dan akhirnya bertemu, hingga berkenalan dengan Panji juga Rangga.

"Anyway, mantan lo dulu yang orang Bandung siapa namanya?" tanya Ado lagi, sambil bercermin dan melihat penampilannya. Menurutku, dia sudah cukup rapi, dan seperti biasa selalu tampan, tidak bercacat. Aku juga tidak mengerti darimana Ado bisa 'bergaya' sempurna seperti itu.

"Tyo," jawabku pendek.

"Ah iya, masih ketemu lo sama dia?"

"Kemarin sempet ketemu kok, dia jemput gue ke kantor,"

"Awas balikan," ledek Ado lagi sambil menatapku jahil dari balik cermin.

"Jangan mulai," ujarku sambil menatapnya sengit setengah bercanda.

"Ribet, Dyt kalo lo galau.." ucap Ado diakhiri dengan tawa lebar. Aku pun melemparnya dengan bantal yang berhasil ditangkapnya.

"Emang rese banget si lo, Do.. Asli deh.." 

Radyta | Tiga Belas

"Iya, Mama.... Senin Ado pulang ya. Weekend minggu depan kita ke Bandung lagi sama - sama samperin Dyta... " 

Aku hanya bisa tersenyum sambil terkekeh melihat Ado yang pasti sudah kena omelan Mama panjang lebar. Kami berdua kini sudah duduk bersama di salah satu coffee shop yang letaknya persis di depan apartemenku di daerah Ciumbuleuit. 

"Iya iseng aja sih, Ma... Abis udah gak ngapa - ngapain di Semarang. Terus malemnya dapet ilham kenapa gak ke Bandung aja dulu nyamperin kakak tercinta. Yaudah langsung beli tiket deh, pagi jam enam tadi berangkat." jelas Ado panjang lebar lewat sambungan telepon. Aku hanya bisa meledeknya dan tertawa kecil melihat ekspresinya yang seperti sudah 'kenyang' karena omelan dari Mama. 

Aku pun menyalakan laptopku untuk memulai bekerja, sementara Ado masih sibuk bergantian berbicara dengan Mama dan Papa. Waktu baru menunjukkan pukul sepuluh ketika aku melihat sosok tiga orang pria yang aku kenal jelas perawakannya. Mereka berjalan memasuki coffee shop bersamaan dan langsung menyadari keberadaanku disitu.

"Eh, Dyta! Halo.." sapa Rangga bersemangat sambil melepas sunglass nya lalu menyodorkan tangannya untuk tos denganku. Aku pun tersenyum dan membalas tos Rangga itu. Sementara Ado yang duduk membelakangi pintu masuk pun menoleh sambil melihat ke arah Rangga. 

"Iya, Mama. Udah ya. Ado lagi nemenin Dyta nih. Yaaaaa, dadah.." Ado cepat - cepat mematikan ponselnya lalu tersenyum kepada Rangga, 

"Lah ada Dyta, ngapain Dyt?" tanya Fadly sambil melihat ke arah Ado, heran. 

"Ini ada yang mau dikerjain. Eh iya, kenalin ini adik aku, Ado.. Baru dateng tadi pagi." Aku pun memperkenalkan Ado kepada Rangga, Fadly dan tentunya Panji yang berada di urutan paling belakang. 

"Halo," sapa Panji pada Ado lalu menatapku dan tersenyum padaku. 

"Sok sok lanjutin," ujar Fadly lagi saat mereka semua sudah berkenalan dan tos - tos ala lelaki kepada Ado. 

"Kita photoshoot dulu ya diatas, nanti ngobrol lagi ya," pamit Rangga.

"Oh iya, silahkan silahkan.." kataku membalas dengan cepat, walaupun aku masih sedikit heran dan ingin bertanya. Tapi kuurangkan niatku, karena aku masih bisa bertanya di lain waktu, terutama Fadly yang satu kantor denganku. 

Fadly dan Rangga pun dengan cepat berjalan menuju tangga, diikuti dengan beberapa crew yang sibuk menenteng beberapa kamera, peralatan lighting dan barang - barang lain yang tak kuketahui namanya. 

"Masih lama disini?" tanya Panji, menatapku lalu Ado bergantian sambil tersenyum. 

"Tergantung kerjaan aja sih ini, aku mau selesein beberapa.." jawabku. 

Panji pun mengangguk, "Ya udah, naik dulu ya.." pamitnya lagi. 

"Yo, silahkan, Bang.." Ado tersenyum pada Panji, dan akhirnya Panji pun berjalan menaiki tangga. 

Ado menatapku, setengah menyelidik dan setengah meledek, "Baru berapa hari lo disini?" tanyanya, yang sudah bisa kuketahui arah pembicaraannya. 

"Baru dua minggu," jawabku, sambil sibuk menatap layar laptopku dan berusaha fokus. 

"Baru dua minggu, udah kenalan sama artis lokal Bandung, gila emang kakak gue..." 

"Rese lo ah," jawabku sambil tersenyum diikuti cengiran dan ledekan dari Ado. 

Radyta | Dua Belas

Aku berusaha mengumpulkan nyawaku saat mendengar ponselku berbunyi nyaring. Aku meraih ponselku yang terletak di atas meja sebelah tempat tidurku. Aku melihat nama yang mucul di layar ponselku dan mengernyitkan dahi. 

"Halo," ujarku, yang masih setengah sadar. 

"Halo, Dyt, gue udah nyampe Bandung." 

"Hah?" Aku sekali lagi melihat layar ponselku untuk meyakinkan diri bahwa benar - benar Ado yang menghubungiku pagi itu. Sekilas aku melihat jam dinding, waktu masih menunjukkan pukul delapan pagi. "Nyampe Bandung? Ngapain?" Aku masih tidak mengerti, lalu kembali memaksakan diriku untuk sadar sepenuhnya. 

"Iya, gue berubah pikiran. Gue ke Bandung dulu nengok lo, baru pulang ke Jakarta." 

"Apaan sih..." ujarku pelan yang masih tidak mengerti isi kepala Ado, "Lo udah bilang Mama?" 

"Udah tadi pagi sebelum take off..." 

Aku menghela nafas. Itu artinya Mama belum tahu rencana Ado yang akan ke Bandung terlebih dahulu, bisa dipastikan Mama juga belum bangun pagi tadi saat aku berangkat, apalagi saat weekend seperti ini, aku tahu kebiasaan Papa dan Mama untuk bangun lebih siang. 

"Ngaco deh lo, yaudah sini naik Ojek aja ke apartemen gue. Gue share location.." kataku pada Ado setengah kesal. 

"Dyta, ah, jangan marah dong. Gue bawain lumpia loh ini buat lo. Yaudah gue kesana ya, lantai berapa?" tanya Ado lagi, dengan jurus mautnya setengah merayu. 

"Percuma gak bakal bisa naik ke atas kalo gak punya kartu akses. Lo kabarin aja kalo udah di lobby.." 

"Siap, Bos!!" jawab Ado bersemangat di seberang sana, "Jangan marah ah, dadahhh..." Ado pun menutup sambungan telepon. Aku akhirnya mau tidak mau beranjak dari tempat tidurku setelah mengirim location pada Ado. Aku pun membersihkan diri sebentar lalu membereskan kamar sebelah untuk ditempati Ado. Apartemen yang aku tinggali ini memang memiliki dua kamar tidur. 

Sekitar setengah jam kemudian, Ado kembali menghubungi dan mengabarkan kalau ia sudah sampai di lobby. Aku pun berjalan menuju lift, tak sampai lima menit, aku sudah melihat Ado duduk santai di salah satu sofa lobby. Ia tersenyum lebar kepadaku. Aku pun, yang memang tidak pernah bisa lama - lama kesal kepadanya sejak dulu, ikut tersenyum lebar melihat Ado yang memang sudah aku rindukan sejak lama. 

"Jangan ngambek dong, nih gue bawain lumpia," Ado memelukku sebentar, aku pun membalas pelukannya lalu menerima oleh - oleh darinya. 

"Thanks anyway, gue kan emang gak bisa lama - lama marah sama lo," ujarku sambil mencubit pelan perutnya. 

Ado pun tertawa lebar lalu merangkulku. Kami berdua pun berjalan bersama menuju ruang apartemenku. Banyak orang yang mengira bahwa aku dan Ado adalah pasangan, bukan kakak - adik. Apalagi kalau ia sudah merangkulku atau menggandengku. Menurutku itu semua karena Ado memang memiliki perawakan yang good looking dan mature sehingga tidak terlihat seperti adikku. 

"Gila, ini lo sendirian disini?" ucap Ado saat melihat ruanganku pertama kali. 

"Iyalah, sama siapa lagi," jawabku santai, "Kamar lo disitu ya," Aku menunjukkan padanya kamar tidur yang lebih kecil yang sudah kubereskan tadi sebelum ia datang. 

Ado pun meletakkan barang - barangnya sebentar di dalam kamar, lalu kembali ke ruang tamu. Aku pun sibuk membuka oleh - oleh lumpia darinya untuk digoreng. 

"Lo tuh kerja apa sih, Dyt. Sampe difasilitasin kayak gini," decak Ado terkagum - kagum sambil berjalan menyusuri setiap sudut apartemenku. 

"Gak tau, padahal gue tim hore doang di kantor," jawabku asal. 

"Ya elah, tim hore mah dikasihnya losmen, bukan apartemen, Dyt," ujar Ado lagi yang memang selalu bisa membuatku tertawa dengan ucapannya. "Lo ke kantor gak hari ini?" tanya Ado lagi. 

"Enggak, tapi gue ada beberapa yang harus dikerjain. Rencananya mau ke coffee shop seberang, mau ngerjain disitu. Eh ada lo dateng mendadak gini, paling gue kerja disini aja deh nemenin lo," jawabku lagi. 

"Eits, jangan gitu dong. Gue temenin aja deh ke coffee shop, sekalian gue juga mau bikin proposal buat magang." ujar Ado lagi sambil membantuku menggoreng lumpia di dapur. 

Aku menghela nafas lalu menatapnya, "Rencana lo tuh gimana sih? Tiba - tiba di Bandung, tiba - tiba nanti ke Semarang lagi, bingung gue." 

Ado menyengir lebar, "Nanti aja ya sister bahas itu, sambil ngopi - ngopi cantik." 

Aku hanya bisa menggelengkan kepala.

Saturday, March 28, 2020

Radyta | Sebelas

Siapa yang menyangka kalau hari ini aku punya waktu lebih banyak untuk mengobrol dengan Panji, si model sekaligus Relationship Manager di salah satu perusahaan startup di Bandung. Kami menghabiskan waktu berjam - jam di lokasi syuting music video itu yang berada di kawasan Dago sambil membicarakan banyak hal, salah satunya latar belakang pekerjaan masing - masing. 

Satu hal yang aku tahu pasti, Panji adalah sosok yang tahu banyak hal. Walaupun tidak punya background pekerjaan yang sama denganku, ia tahu sedikit banyak tentang hal - hal yang kukerjakan sehari - hari. Tidak hanya itu, ia juga merupakan pendengar yang baik. Benar - benar ia selalu menatapku dengan penuh perhatian saat aku sibuk bercerita atau menjelaskan sesuatu. 

"Aku tuh bener - bener gak ngerti deh kalo disuruh akting di depan kamera, gak bisa banget...." ujarku, karena masih terkagum dengan akting Panji di video itu yang sangat menarik perhatianku sampai aku bisa menghafal wajahnya dan menyadarinya saat pertama kali berkenalan di PVJ. 

"Awalnya aku juga. Kagok banget sampe retake berkali - kali.. Tapi lama kelamaan akhirnya terbiasa. Apalagi kalo lawan mainnya temen sendiri. Lebih kerasa gampang gitu rasanya.." jawabnya sambil tersenyum kecil. 

"Jadi kamu sama si cewek itu emang udah temenan berarti?"

"Sempet beberapa project bareng sebelum ini, jadi enggak kagok banget..." jawabnya lagi, "Menurut kamu, gimana video nya? Bagus apa engga?" Sekarang gantian ia yang bertanya. 

"Bagusssssssss bangetttttttttt!" jawabku bersemangat, "Bener - bener apa ya flawless menurutku, mulai dari setting tempat, properti, tone video, sampe chemistry kalian tuh dapet banget jadi kita yang nonton ikutan baper!" 

Panji tertawa setelah mendengar jawabanku, "Serius sampe baper?" katanya sambil memasang wajah tidak percaya. 

Aku mengangguk cepat, "Ya mungkin karena hampir mirip sama pengalaman pribadi juga kali ya, jadi bapernya lebih ngena.." jawabku jujur, diikuti tawa lagi dari Panji. 

"Kalo pengalaman pribadi ya enggak heran sih," ledeknya sambil tertawa, "Tapi sampe sekarang emang masih sama yang beda agama?" tanya Panji, karena music video Andhito yang terbaru itu memang menceritakan tentang pasangan beda agama. 

Aku hanya tersenyum lebar sambil menggelengkan kepala merespon ledekannya, "Enggak, udah selesai dari tiga tahun yang lalu..." jawabku santai. 

"Yang jemput kamu minggu lalu itu?" 

Kenapa dia bisa tahu? Pikirku dalam hati,

"Kok kamu tau?" tanyaku setengah terkaget. 

Panji pun tersenyums sambil menggelengkan kepala, "Jarang - jarang ada mantan yang hubungannya masih baik, sampe mau ngejemput gitu. Kemungkinannya cuma dua, dia yang gak bisa move on, atau kamu memang spesial." 

Jawaban Panji membuatku tertegun. Hal itu sama sekali tidak pernah terpikirkan sebelumnya olehku. 

"Kalau aku tebak, dan aku yakin banget aku gak salah. Dia mah udah move on, tapi kamu memang spesial. Jadilah seperti itu, jemput menjemput.." sambungnya dengan nada santai, tenang dan diikuti dengan senyum hangat sambil menatapku. 

"Kok yakin banget kamu enggak salah?" tanyaku lagi sambil tersenyum meledeknya. 

"Ya karena kamu memang spesial..." 

Aku terdiam sebentar. 
Panji pun juga terdiam. Sejenak raut wajahnya berubah, tapi secepat itu pula ia kembali tersenyum lebar lagi. 

"Pake telor tiga ya berarti. Kalo pake telor empat namanya istimewa," sahutku asal sambil membuang wajah karena itu satu - satunya kalimat terbaik yang bisa kuucapkan saat suasana awkward ini kembali lagi.

"Pake telor dua juga udah spesial kok," 

Dan kami pun bertatapan lalu sama - sama tertawa menanggapi obrolan yang semakin random itu. 

"Makasih udah ngajak jalan - jalan ya, Nji. Maaf jadi kemaleman banget. Aku jadi bener - bener ngerepotin.." ujarku pelan saat Panji sudah memarkirkan mobilnya di lobby apartemenku. 

Jam sudah menunjukkan pukul satu pagi. Itu artinya aku menghabiskan waktu hampir lima jam bersama Panji yang baru aku kenal dua minggu belakangan ini. Such a good progress, Dyta, pikirku. Karena sejujurnya aku bukan tipe orang yang mudah membuka diri pada orang yang baru kukenal.

Tapi Panji memang berbeda. Pembawaannya santai dan obrolan kami seolah - olah seperti dua orang yang sudah saling mengenal lama. Singkatnya, kami nyambung. 

"Serius engga ngerepotin sama sekali. Kebetulan juga aku free, lumayan jadi tour guide buat orang Jakarta.." balasnya sambil tersenyum. Aku pun ikut tersenyum mendengar jawabannya yang selalu polite dan santai. 

"Rumah kamu gak jauh kan dari sini?" tanyaku, sedikit khawatir. 

"Engga kok, deket banget. Paling 10 menit sampe. Sampe kamar malah.."

"Hati - hati yah. Kabarin sampe rumah.."
Satu kalimat yang meluncur bebas dari mulutku tanpa kusadari itu membuatku sejenak terdiam. Rasanya aku ingin menarik kembali kalimat itu. Ini adalah salah satu kebiasaan yang memang sulit kuubah, minta dikabari siapapun yang mengantarku pulang ke rumah. Rasanya kalimat ini sudah jadi 'template' setelah mengucapkan terima kasih. Tapi masalahnya ini Panji, yang baru aku kenal lima dua minggu yang lalu. 

Sontak ada perasaan tak enak yang menjalariku. Aku perlahan mengalihkan pandangan dan wajahku, menghindari Panji. 

Tak kuduga, ia mengeluarkan ponsel dari saku celananya lalu menyodorkannya padaku. Aku menatapnya, bingung. 

"Sok masukin nomor kamu. Gak mungkin kan aku kabarin lewat security apartemen 'Pak tolong sampein ke Radyta saya sudah mendarat di kasur dengan selamat,'" jawabnya sambil menirukan.

Lagi - lagi, satu balasan darinya yang tak kuduga. Aku tersenyum lebar, lalu meraih ponsel nya. 

Radyta | Sepuluh

Cukup awkward berada di dalam mobil berdua dengan Panji. Walaupun kami sering bertegur sapa setiap kali ia datang ke kantor untuk menemui Fadly, tetap saja, untuk yang satu ini aku merasa sedikit gugup.

Saat aku sedang berusaha memikirkan pertanyaan apa yang bisa kutanyakan untuk membuka pembicaraan, Panji sudah memulainya terlebih dahulu. 

"Sampai kapan tugas di Bandung?" tanya Panji, sambil menoleh ke arahku sekilas. Ia lalu kembali memusatkan perhatiannya ke jalanan depan. Butuh waktu sekitar tiga detik sebelum aku menjawab pertanyaannya karena aku sibuk memperhatikan sosok Panji. 

"Kurang lebih enam bulan, Mas. Banyak yang harus diperbaiki ternyata disini.." jawabku, lalu menatap keluar jendela. Ada sedikit perasaan aneh yang kurasakan. Aku merasa seperti sudah pernah mengulang hal ini, tapi tak bisa kuingat dimana. 

"Panji aja.." ujar Panji lagi. Aku pun lalu mengangguk dan tersenyum. Terbiasa memanggil orang lain dengan sebutan 'Mas' di Jakarta mungkin masih terbawa sampai ke Bandung. 

Suasana kembali hening. 
Lalu sontak, aku teringat sesuatu dan hal itu pun langsung kuutarakan pada Panji.

"Jujur aku kaget sih waktu pertama kali liat kamu, yang dikenalin sama Fadly kemarin itu di PVJ.." Aku berusaha membuka obrolan yang memang sebenarnya tak bisa kutahan. Semoga saja ini awal yang baik agar suasana di dalam mobil ini tidak terlalu tegang. 

Tak kusangka, Panji tertawa saat mendengar pengakuanku itu, "Kenapa kaget?"" tanya Panji, masih dengan senyuman lebar walaupun sambil memperhatikan jalan. 

"Soalnya aku baru banget liat video itu hari Minggu nya, sebelum aku berangkat ke Bandung. Bener - bener baru banget liat karena pas waktu itu lagi dengerin radio kan, terus ada Andhito di wawancara. Aku penasaran sama lagu barunya, yaudah aku cari di Youtube..." ujarku panjang lebar menceritakan reka ulang kejadian. "Eh terus beberapa hari kemudian... Aku kenalan beneran sama model video nya.." 

Panji pun tertawa lagi setelah mendengar ceritaku. Aku pun juga ikut tertawa karena sampai detik ini aku masih tidak percaya kalau aku bertemu langsung dengan sosok Panji, yang memang sangat good looking dan ternyata juga sangat ramah. 

"Ya ampun, malu euy baru kali ini aku diceritain langsung empat mata kayak gini, kamu doang kayaknya yang cerita ke aku dengan situasi begini, bener - bener berdua begini," 

Aku pun tersenyum mendengar pengakuan Panji yang rasanya natural, tidak ditutup - tutupi dan tidak dibuat - buat. Aku rasanya masih setengah tidak percaya, tapi ya, dia memang orangnya. Aku ingat sekarang, karena tatapan hangat itu. 

"Emang biasanya diceritain kayak gimana?" tanyaku, ingin tahu. 

"Iya biasanya kan diceritain pas rame sama anak - anak, atau pas lagi nongkrong di tempat umum gitu. Jadi ya kayak aku sambil lalu aja gitu. Kalo kayak kamu gini kan bener - bener berdua, jadi malu juga euy," Panji tersenyum lebar sambil melihatku sebentar. Aku pun juga tersenyum lebar melihat ekspresi wajahnya yang memang tersipu. 

"Tapi aku suka banget deh itu lokasi syutingnya dimana sih? Bagus ya kayaknya..." ujarku, yang sebenarnya juga penasaran dengan lokasi syuting video itu. 

"Mau kesitu?" Panji langsung menatapku, cukup lama. 

Aku pun hanya bisa mengangguk pelan sambil tersenyum polos ala anak kecil yang minta dibelikan sesuatu.

"Ayuk kita kesitu. Berarti.... Kita puter balik ya." Panji pun meminggirkan mobilnya ke tepian perlahan, lalu menarik rem tangan. Ia menatap ke arahku lagi, "Mau nggak kita beli es kopi susu dulu?" ajaknya, sangat lembut. 

Aku pun langsung mengangguk cepat, "Aku suka banget es kopi susu!! Mau banget!" jawabku bersemangat. 

Panji tersenyum lagi, "Pas kalo gitu." 

Friday, March 27, 2020

Radyta | Sembilan

Sudah dua minggu sejak kepindahanku ke Bandung. Malam ini, aku pun memutuskan untuk menghubungi Papa dan Mama dan mengabarkan kalau aku belum bisa pulang ke Jakarta. Aku merasa beberapa pekerjaanku belum bisa kutinggalan, selain itu aku juga masih harus membereskan barang - barang di apartemen yang masih kuatur seadanya. 

"Maaf ya, Ma.. Dyta belum bisa pulang lagi minggu ini. Masih ada beberapa kerjaan, gak bisa Dyta tinggalin. Terus mau beresin apartemen juga. Nanti Dyta atur ya supaya bisa pulang ke Jakarta.." ujarku pada Mama di sambungan telepon. 

"Iya udah nggak apa - apa. Kalo Dyta belum sempet, biar Papa sama Mama aja yang ke Bandung gimana?" tanya Mama. 

"Boleh banget. Pokoknya kalo mau dateng, Mama kabarin Dyta aja ya. Kalo bisa naik kereta aja deh, Ma.. Supaya gak kena macet. Kasian kan Papa kalo nyetir tapi macet - macetan," sahutku mengingat hanya Papa yang bisa menyetir dan tidak tega kalau harus membayangkan Papa dan Mama bermacet - macet ria. 

"Gak apa - apa, kita bawa mobil aja. Rencananya si Ado mau pulang juga lusa. Libur tiga minggu sebelum kerja praktek. Jadi nanti bisa gantian nyetir sama Ado kalo Papa capek." 

"Oh gitu, ya udah nanti Dyta telepon Ado juga deh. Udah lama gak ngobrol sama dia. Yang penting. Papa sama Mama jaga kesehatan ya. Dyta kangen banget.." Aku tersenyum dari balik ponselku. Walaupun aku tahu, Mama tidak bisa melihat ekspresiku, tapi aku yakin Mama tahu kalau aku juga merindukan rumah. 

"Hati - hati ya, Nak disana. Jaga diri, jaga kesehatan. Jangan lupa hari Minggu ke Gereja ya. Love you, anak Mama..." 

Setelah berpamitan, sambungan telepon pun putus. Aku menghela nafasku lalu melihat jam sudah menunjukkan pukul delapan malam. Ruangan kantor sudah sepi, tidak ada satupun yang masih berada di dalam. Walaupun demikian, aku masih bisa mendengar suara obrolan dari luar. Aku pun memutuskan untuk membereskan barang - barangku dan membawa pulang laptop untuk melanjutkan pekerjaanku di hari weekend

"Dyt.." panggil seseorang dari arah pintu masuk. Aku pun mengangkat kepalaku dan melihat sosok Fadly yang kini berjalan ke arah mejaku. Aku tersenyum dan menyapanya. "'Kok belum pulang sih? Lagi banyak kerjaan?" tanya Fadly lagi. 

"Iya tadi ada beberapa yang belum selesai. Ini mau pulang kok. Kamu gak pulang juga?" tanyaku balik. Walaupun aku bisa melihat Fadly sudah mengenakan tas selempangnya dan sepertinya ia juga bergegas untuk pulang. 

"Iya ini mau pulang juga. Kamu pulang ke arah mana sih, Dyt? Bareng aja ayuk." ajak Fadly yang menurutku memang sangat perhatian kepada semua orang di kantor ini. Mulai dari rekan satu timnya, sampai kepada Mang Udin. 

"Ke Ciumbuleuit kok, deket. Gak apa - apa mas, aku naik ojek aja bisa kok, gampang." tolakku halus sambil tersenyum karena aku memang tidak ingin merepotkan orang lain, apalagi kalau itu bisa kulakukan sendiri. 

"Oh, Ciumbuleuit. Kalo kesana mah bareng Panji aja tuh. Dia juga rumahnya di Ciumbuleuit, dari UnPar, naik dikit. Udah dianterin aja. Panji juga ada kok itu di luar sama Rangga." Fadly pun mengajakku keluar sambil membantu membawakan tas laptopku. 

"Nji......" seru Fadly saat kami berdua masih berada dalam ruangan. Setibanya di luar, aku melihat Panji dan Rangga sedang mengobrol bersama dengan Mang Udin. Sekilas ia menatapku lalu tersenyum. Aku  pun balas tersenyum padanya, lalu mengarahkan pandanganku pada Rangga dan menyapanya juga. 

"Naon?" tanya Panji pelan dengan logat Sunda nya.

"Anterin Dyta pulang ya, searah kok sama maneh. Di Ciumbuleuit juga," jawab Fadly enteng.Panji pun menatapku lagi. 

"Gak usah kok, Dly. Beneran, bisa pulang sendiri.." Aku tersenyum, masih berusaha menolak tawaran Fadly dengan halus. 

"Ih udah nggak apa - apa, Dyt. Dianter aja. Udah malem juga gini," Rangga mencoba meyakiniku sambil tersenyum.

Ada sedikit perasaan tidak enak karena harus merepotkan Panji. Walaupun aku baru mengenal tiga orang pria ini, tapi tidak ada perasaan gelisah sedikitpun yang muncul di kepalaku. Aku tahu dan aku yakin, mereka bertiga adalah sosok pria yang bisa diandalkan, dipercaya dan memang punya sifat perhatian kepada teman. Tapi memang aku yang selalu punya rasa 'tidak enak,' kalau sampai merepotkan orang lain. 

"Gak apa - apa, bareng aja. Yuk, sekarang?" tanya Panji, menatapku, sambil meraih tas laptopku dari Fadly. 

Thursday, March 26, 2020

Radyta | Delapan

Sekitar pukul enam sore, Tyo kembali menghubungiku dan mengabarkan bahwa ia sudah sampai di depan kantorku. Bergegas aku pun cepat - cepat membereskan barang - barangku dan mematikan laptopku. Saat sedang berjalan menuju keluar ruangan, dari balik kaca jendela aku melihat sosok Panji yang sepertinya baru sampai. 
"Mas Fadly belum sampai kantor lagi kayaknya, Mas Panji.." 

Sayup - sayup aku mendengar suara Mang Udin setelah menyapa Panji. Aku pun berjalan keluar dari pintu depan dan sesaat melihat ke arah Panji. Ia pun sepertinya menyadari keberadaanku dan langsung membalikkan badannya. Aku menatapnya, lalu tersenyum kecil. 

"Nunggu Fadly, Mas?" sapaku sebentar. 

"Iya ini, ternyata dia belum balik dari meeting," jawab Panji lalu kembali tersenyum padaku. 

"Aku duluan ya, Mas. Udah ditunggu." Aku pun langsung berpamitan pada Panji karena tidak enak membuat Tyo menunggu lama. 

"Hati - hati ya," 

Sebuah balasan yang tak kusangka dari Panji itu sontak membuatku tersenyum lebar kepadanya. Aku pun mengangguk pelan lalu berpamitan juga pada Mang Udin. 

Beberapa langkah setelah berjalan keluar dari depan pagar, aku bisa melihat sosok Tyo dari belakang yang sibuk memperhatikan arah belakang dari balik kaca spion motornya. Aku merekahkan senyumanku, dan ia pun membalas tersenyum dari kaca itu. Aku berjalan mendekatinya, berusaha tetap tenang walaupun aku bisa merasakan jantungku berdegup cukup cepat dari biasanya. 

"Dengan Mbak Dyta dari Jakarta ya?" Sebuah kalimat pembuka dari Tyo yang membuatku tertawa pelan. Kini aku bisa kembali menatap wajah itu dari dekat. Tidak banyak yang berubah, selain raut wajahnya yang mulai tampak lebih dewasa dari waktu terakhir aku bertemu dengannya. Tyo pun langsung memelukku, tidak erat, tapi aku bisa merasakan bahwa ia tidak ingin memiliki jarak denganku. Aku pun memeluknya sebentar lalu kembali melepasnya. "Mbak Dyta mau makan apa? Saya siap nganter keliling kemanapun Mbak Dyta mau." 

Tyo sempat menawarkan untuk mengajakku ke beberapa cafe baru di Bandung, tapi dengan sopan aku menolaknya. Aku memilih untuk makan di warung - warung tenda kaki lima di depan Kampus UnPad yang sudah lama aku rindukan. 

"Masa aku ngajak Ibu Bos makan di kaki lima? Atulah, Dyt.. Kamu emang gak berubah ya," kata Tyo saat kami  masih di perjalanan. Ia menatapku dari balik kaca spionnya saat aku memutuskan untuk makan di warung tenda biasa. Candaan Tyo itu hanya kubalas dengan gelengkan kepala sambil tersenyum lebar. 

Sampe kapan kamu dinas di Bandung?" tanya Tyo membuka pembicaraan saat kami sudah sampai di Warung Tenda Sate Padang langgananku di depan Kampus UnPad. 

"Kurang lebih enam bulanan.." jawabku sambil menyantap Sate Padang yang benar - benar sudah kurindukan ini. 

"Lama juga ya, lumayan. Tapi pasti setiap weekend pulang ke Jakarta ya pasti kamu?" 
"Enggak setiap weekend juga kayaknya, Yo.. Mungkin dua minggu sekali. Kamu sendiri proyeknya dimana sekarang?" tanyaku pada Tyo yang memang lulusan Teknik Sipil.  Aku sendiri sudah mulai membiasakan diriku lagi saat bertatapan dengan Tyo. Debar jantungku sudah normal kembali, dan aku merasa seperti sedang mengobrol santai dengan teman lamaku. 

"Di Kopo. Tapi udah mau selesai juga kok disana. Mungkin sekitar sebulan lagi selesai.." jawabnya lagi sambil tersenyum kepadaku. 

"Terus, Bapak apa kabar?" Pertanyaan yang keluar begitu polosnya dariku sontak membuat raut wajah Tyo berubah seketika. Seperti ada rasa tidak enak dari darinya. Tapi cepat - cepat kubalas dengan senyum lebar kepadanya. 

"Alhamdulillah, Dyt. Sehat kok sehat.." Ia tersenyum kecil. "Kamu nginep dimana selama disini?" tanya Tyo lagi yang kurasa mencoba mengalihkan topik pembicaraan. 

"Di Ciumbuleuit," Aku yakin sekali pertanyaan klasik itu berujung pada tawaran Tyo untuk mengantarku pulang. 

"Aku anter kamu pulang aja ya sekalian, searah kok sama kita pulangnya.." 

"Enggak searah dong. Aku ke kanan, kamu ke kiri..."ledekku sambil mengedipkan mata. Tyo pun tertawa pelan sambil menghabiskan makanannya yang terakhir. 

"Ampun, Neng.." katanya setengah tersipu, "Pokoknya kalo kamu butuh apa - apa selama di Bandung, bilang aja ya, Dyt. Insya Allah aku bisa bantu." sambung Tyo lagi. 

"Aku gak papa kok direpotin kamu. Dari dulu kamu gak pernah ngerepotin aku soalnya." Nada suara Tyo mendadak berubah menjadi sedikit lebih serius. Aku bisa merasakannya walaupun hanya sebentar. 

Tyo bersikeras mengantarkan aku sampai ke Apartemen. Aku pun tidak bisa menolaknya, walaupun ada sedikit perasaan bersalah terhadap pacar Tyo. Sempat terbersit di pikiranku untuk menanyakan bagaimana hubungannya saat ini dengan pacarnya, yang beberapa kali sempat kulihat di update oleh Tyo di Instagram pribadinya. Tapi aku berusaha menahan, karena aku tahu, Tyo pasti akan menjawab ala kadarnya. 

"Bilang aja kalo mau ke Gereja, nanti aku anter.." kata Tyo saat aku sudah turun dari motor. 

"Enggak usah lah, gak papa kok aku bisa. Nanti paling naik ojek aja.." jawabku jujur. Selain itu, aku juga tidak mau terlalu banyak merepotkan orang disini. 

"Mending kamu bayarin aku minum kopi daripada bayar ojek, Dyt.." katanya setengah serius yang anehnya, lagi - lagi bisa kurasakan. Aku pun hanya mengangguk pelan sambil tersenyum padanya. 

"Alhamdulillah kamu masih mau ketemu aku. Aku seneng banget bisa ketemu kamu lagi, Dyt. Demi Allah deh. Pas liat kamu update lagi di Bandung, aku kaget banget. Untung tadi aku telepon kamu angkat ya," ujar Tyo diakhiri dengan tawa lagi. 

Tyo yang sekarang memang tidak berbeda dengan Tyo yang dulu aku kenal, salah satunya, ia tidak suka neko - neko. 

"Ya udah, sok naik. Istirahat. Besok masih kerja lagi. Kalo ada apa - apa, please kasih tau aku ya, Dyt. Siapa tau aku bisa bantu kamu.." 

"Iya, pasti. Makasih ya, Yo.. Kami hati - hati, kabarin ya sampe rumah," ujarku menyudahi.  

"Dyt," panggil Tyo pelan. "Aku seneng banget kamu masih mau ketemu aku. Makasih ya, Dyt. Makasih kamu mau selalu baik sama aku." 

Radyta | Tujuh

Setelah menyelesaikan weekly meeting pagi ini, aku kembali ke meja kantorku untuk melanjutkan beberapa pekerjaanku yang sempat tertunda. Cukup banyak input yang diberikan untukku, sekaligus menjadi langkah awal untuk menbenahi Kantor Cabang ini. Walaupun ini adalah hal yang sangat baru bagiku, tapi entah mengapa aku merasa senang melakukannya. Mungkin karena suasana dan orang - orang di sekitarku sekarang sangat membantuku dengan cukup baik. 

Saat sedang sibuk membereskan beberapa pekerjaanku, ponselku tiba - tiba bergetar. Aku pun sekilas melihat layar ponselku untuk melihat siapa yang menghubungiku. Aku menghela nafas pelan saat melihat nama itu muncul lagi di layar ponselku setelah sekian lama. Almer Prastyo, yang tidak lain dan tidak bukan adalah Tyo. Aku sudah yakin pasti alasan ia menghubungiku. Salah satunya pasti karena Tyo mengetahui keberadaanku di Bandung lewat unggahanku semalam di Instagram. 

"Halo," sapaku pelan. Beruntungnya, meja kerjaku berada di pojok ruangan sehingga tidak terlalu mengganggu perhatian orang banyak jika sedang menerima telepon. 

"Halo Dyt, ini Tyo," suara Tyo yang masih bisa kuingat dengan jelas, membuatku tersenyum kecil dari balik ponsel.

"Iya, Yo... Aku masih simpen nomor kamu kok," jawabku. Terdengar Tyo tertawa pelan disana. 

"Kamu di Bandung?" tanya Tyo. 

"Iya, aku lagi tugas disini, Yo. Kamu apa kabar, anyway?" tanyaku, dengan pertanyaan basa - basi untuk membuka topik obrolan supaya tidak terkesan kaku.
"Baik, Dyt. Alhamdulillah. Kamu gimana? Sehat juga kah? Papa Mama gimana?" 

"Baik semua, Puji Tuhan," jawabku santai. Aku dan Tyo memang sudah terbiasa mengucapkan kalimat syukur menurut kepercayaan kami masing - masing. Ternyata kebiasaan itu juga tidak berubah sampai sekarang ini. 

"Kantor kamu dimana?" tanya Tyo, langsung tanpa basa - basi lagi. 

"Di Sukajadi, Yo." jawabku singkat karena tidak ada ide untuk memberikan pertanyaan balik kepada Tyo. 

"Loh searah rumah aku dong? Kamu pulang jam berapa? Aku jemput aja sekalian kita makan malem bareng gimana?" ajak Tyo yang mendadak membuatku sakit perut. 

"Gak papa emang?" tanyaku pelan, mencoba memastikan kembali karena sedikit perasaan tidak enak. Sekaligus perasaan belum siap untuk bertemu kembali dengan Tyo. 

"Dyta ah kebiasaan. Ya udah nanti share location ya. Aku jemput kamu jam enam. See you, Dyt." Tyo pun menyudahi percakapan, karena aku tahu, ia tidak ingin ditolak. 

Memori masa laluku bersama Tyo muncul berbarengan saat aku memutuskan sambungan telepon.Walaupun aku tahu, aku sudah tidak punya rasa apapun untuk Tyo, tetap saja kenangan masa lalu itu tiba - tiba bermunculan lagi di kepalaku. Aku menghela nafasku pelan. Tidak ada alasan untuk tidak siap bertemu dengan Tyo, pikirku langsung saat itu juga. 

Radyta | Enam

Tepat pukul jam dua belas siang, Fadly menghampiriku yang sedang sibuk membaca beberapa draft pekerjaan yang baru saja dilimpahkan Pak Djat kepadaku. Ia tersenyum sambil menarik salah satu kursi kosong dan duduk di sebelahku. 

"Makan yuk," ajaknya santai. 

"Biasanya kalau makan siang deket sini dimana, Mas?" tanyaku, yang memanggilnya dengan sebutan 'Mas' agar jauh lebih sopan. 

"Aduh, panggil Fadly aja.." katanya lagi sambil memperlihatkan wajah keberata saat dipanggil dengan sebutan 'Mas.' Lalu, Fadly pun kembali melanjutkan, "Biasanya makan di warung - warung deket sini banyak kok. Tapi ini aku mau makan siang di PVJ, sekalian mau lanjut meeting nanti. Ikut nggak? Ikut aja lah, daripada makan sendirian.." ajaknya lagi sambil tersenyum lebar. 

"Yaudah boleh, ayuk.." Aku pun beranjak sambil membawa dompet dan handphoneku, lalu berjalan keluar ruangan mengikuti Fadly. Ia pun mengeluarkan kunci mobilnya dan berpamitan pada Mang Udin, security di kantor ini. 

"Nanti aku anterin kamu balik aja dulu ke kantor. Masa kamu balik sendiri," ujar Fadly membuka obrolan. 

"Gak papa kok, santai aja. Kan bisa nanti naik ojek. Daripada kamu bolak - balik. Emang meetingnya dimana?" tanyaku. 

"Ih gak papa lah, deket ini dari PVJ ke kantor. Meeting di PVJ juga. Udah gak papa, santai aja. Daripada kamu dibawa nyasar nanti sama ojek kan," ledek Fadly. 

"Enggak lah, aku hafal Bandung kok. Kan dulu kuliah di Bandung," jawabku yang membuat Fadly cukup kaget. Raut wajahnya berubah seketika.

"Seriusan? Kuliah di Bandung? Naon kita gak dipertemukan aja sejak kuliah yah?" ujar Fadly yang membuatku tertawa. "Eh iya, Dyt. Aku makan bareng sama temen - temen aku gak apa - apa yah?" lanjut Fadly. 

"Gak apa - apa dong, santai.." jawabku. 

Kami berdua pun sampai di PVJ dan masuk ke salah satu restoran Jepang disana. Aku berjalan mengikuti Fadly yang tampak menuju ke salah satu meja dengan dua orang pria yang sudah mendahuluinya. Ia pun menyapa kedua pria lalu memperkenalkanku kepada keduanya. 

"Dyta," ujarku memperkenalkan diri saat berkenalan dan bersalaman dengan Rangga dan Panji. Dua orang yang diperkenalkan Fadly sebagai sahabatnya sejak lama. Aku sempat menatap Panji beberapa saat karena merasa wajahnya tidak asing. Yang bernama Panji itu pun sepertinya merasa kalau aku sedang 'berpikir' saat bersalaman dengannya. 

"Kenapa, Dyt? Kayak pernah liat yah?" tanya Fadly membuyarkan pikiranku. Sontak aku pun langsung melepaskan salamku dan tersenyum kecil. 

"Iya, kayak pernah liat tapi dimana ya," Aku masih berusaha untuk mengingat - ingat. 

"Kata kuncinya : model." ujar Rangga sambil tertawa kecil ke arah Panji, lalu ke arahku. 

Sontak aku pun terdiam dan terkejut. Gambaran wajah Panji mendadak terasa amat jelas di kepalaku. Ya Tuhan, batinku pelan. "Yang di music videonya Andhito ya?" tanyaku, pelan karena aku belum yakin walaupun wajah Panji bisa kuingat jelas di dalam video itu. 

Panji pun langsung tersenyum lebar, sementara Rangga dan Fadly kompak memuji ku, lalu memuji Panji karena sekarang sudah menjadi 'artis.' Kami berempat pun langsung dengan mudah beradaptasi dan mengobrol satu sama lain. Thank to this Panji. 

Radyta | Lima

Bekerja di Bandung, adalah sebuah cita - cita yang baru kesampaian hari ini. Sejak lulus kuliah, aku selalu punya keinginan untuk bekerja di Bandung. Ingat sekali rasanya saat detik - detik meninggalkan Bandung untuk pindah ke Jakarta, perasaanku saat itu sangat tidak karuan. Antara sedih, ingin tetap tinggal, tapi tidak bisa. Aku keburu diterima di salah satu perusahaan di Jakarta. Tetapi bukan, bukan perusahaan tempat bekerjaku yang sekarang ini.

Kembali ke Bandung setelah hampir tiga tahun tidak pernah kesini lagi, adalah salah satu hal yang membuat aku amat senang. Pertama, karena aku selalu  menyukai kota Bandung. Kedua, tantangan baru, suasana baru dan lingkungan baru membuatku cukup bersemangat untuk memulai pekerjaanku disini. 

Selama bertugas di Bandung, aku ditempatkan di salah satu apartemen di Ciumbulueit, sementara Kantor Cabang Bandung ada di daerah Sukajadi. Tidak terlalu jauh, tapi Sukajadi adalah salah satu daerah macet di Bandung. Terutama saat weekend

Lingkungan kantor di Bandung pun benar - benar mendukung. Tidak seperti di Jakarta, di sini sebuah rumah besar disulap menjadi sebuah Kantor Cabang. Tidak ada sekat antar karyawan dan tidak ada batasan antar divisi. Aku mulai beradaptasi dengan suasana disini, ditambah semua orang disini sangat ramah dan murah senyum. Sebuah awal yang baik, semoga saja seterusnya baik, batinku saat itu. 

"Senang banget akhirnya Mbak Dyta akhirnya bisa kesini! Pak Arief banyak banyak cerita soal Mbak Dyta sama saya!" sambutan hangat dari Pak Djatmiko, atau yang lebih suka dipanggil Pak Djat, Kepala Cabang kantor Bandung, membuat aku merasa "sangat diterima" disini. 

"Cerita apa aja, Pak?" tanyaku sambil tertawa pelan. 

"Banyak deh, Mbak. Intinya, Mbak Dyta itu salah satu kesayangan Pak Arief. Emang saya kan juga request ke Pak Arief, kalau bisa teh yang gantiin Mas David itu, yang masih muda. Soalnya disini kan karyawan kita kebanyakan masih muda semua, Mbak. Jadi biar ngebaurnya enak gitu.." jawab Pak Djat panjang lebar. Aku pun menganggukkan kepala mengerti sambil tersenyum. "Ayo deh, Mbak saya ajak muter.. Biar kenalan sama yang lain." ajak Pak Djat. 

Hari pertama bekerja di Bandung adalah salah satu hari yang paling membuatku senang. Benar - benar berbeda. Lebih excited dari yang kuduga. Entah mengapa sebuah perasaan lega dan tenang muncul bersamaan, tidak ada kegelisahan sama sekali saat aku pertama kali berkeliling di kantor itu. Aku benar - benar bersyukur karena semuanya berjalan mulus. Setidaknya, perkenalan dengan karyawan di sana berjalan baik. 

"Mbak Dyta ini adalah Team Leader Divisi IT kita yang baru dan se-men-ta-ra," ujar Pak Djat di tengah - tengah ruangan. Sontak yang lain langsung bergumam sendiri saat mendengar kata 'sementara.' Pak Djat pun kembali melanjutkan, "Kenapa sementara? Karena kita minjem. Kalo minjem kan harus dibalikin atuh, asalnya Mbak Dyta ini dari Kantor Pusat di Jakarta." 

"Semoga aja kerjaan di Bandung gak selesai - selesai ya, Mbak Dyta. Biar dipinjem selamanya terus di Bandung." ujar salah satu pria yang berdiri di paling belakang. Aku hanya bisa tersenyum kecil menatapnya sebentar lalu kembali melirik ke arah Pak Djat. 

"Aih kamu mah, Fadly," kata Pak Djat sambil mengibaskan tangan "Tapi saya juga setuju sih, Mbak sama Fadly." sambung Pak Djat lagi yang disambut tawa para karyawan yang lain. "Jangan masukin hati ya, Mbak Dyta, disini emang kita semua bicara apa adanya. Nah, yang ngomong tadi itu namanya Fadly, dari Marketing." 

Yang bernama Fadly itu pun melambaikan tangan sambil tersenyum. Aku pun membalasnya dengan anggukan kecil dan tersenyum. Sungguh aku merasakan salah satu sambutan yang luar biasa hangat. 

Terima kasih, Bandung. Untuk hari pertama ini.

Radyta | Empat

Sepanjang jalan pulang ke rumah, aku hanya memikirkan bagaimana cara menyampaikan kabar baik, sekaligus mengejutkan ini kepada Papa dan Mama. Sudah tiga tahun terakhir ini, aku memang hanya tinggal bertiga saja dengan Papa dan Mama di rumah, dikarenakan adik laki - lakiku satu - satunya, Ado, melanjutkan kuliahnya di Semarang. 

Aku pun akhirnya memutuskan untuk membicarakan hal ini saat makan malam bersama. Seperti yang kuduga, Papa dan Mama amat senang mendengar kabar promosiku. Tetapi, mereka juga mendadak sedih saat tahu bahwa aku harus pindah ke Bandung selama enam bulan. 

"Mama kesepian deh pasti, enam bulan ditinggal Dyta," ucap Mama pelan di tengah makan malam bersama kami. Aku pun langsung memeluk Mama yang duduk tepat di sebelahku. Rasanya memang cepat sekali. Hari ini aku baru memberitahukan soal kabar ini, dan lusa aku sudah tidak tinggal di rumah lagi, melainkan di Bandung. 

"Aku usahain pulang setiap weekend ya, Ma.." 

Mama pun mengangguk lalu kembali memelukku lagi, "Gak apa - apa, disesuaikan aja sama jadwal Dyta disana. Kalo bisa pulang, syukur. Kalau enggak bisa juga nggak apa - apa. Asal jaga kesehatan terus ya, Nak disana.." 

"Iya, disesuaikan sama jadwal kamu aja, Dyt. Kalau nggak bisa pulang ke Jakarta, Papa sama Mama bisa juga kok main ke Bandung.." usul Papa sambil tersenyum. Aku tahu, Papa pasti juga kaget dengan kabar mendadak ini, tapi Papa lebih bisa menyembunyikan emosinya dibanding Mama. 

"Mama sedih banget mau ditinggal Dyta enam bulan ke Bandung. Tapi Mama juga seneng, karena ini bisa jadi kesempatan buat Dyta, belajar hal baru, belajar dengan tanggung jawab baru. Pesen Mama, jangan lupa berdoa, bersyukur sama Tuhan ya, Nak..." 

Aku pun terharu mendengar pesan Mama. Tak terasa aku menteskan air mataku lalu memeluk Mama lagi. Papa pun beranjak dari kursinya lalu memeluk kami berdua. 

"Baik - baik disana ya, Nak.. Jadi inget waktu kamu mau berangkat kuliah ke Bandung. Papa, Mama sama Ado juga sedih banget, persis banget kayak gini.." 

Iya, aku masih bisa mengingatnya dengan jelas. Aku pun tersenyum lalu mencium pipi Papa dan Mama bergantian. 
Bandung, sampai jumpa kembali. 

Radyta | Tiga

Senin pagi ini, aku berangkat ke kantor seperti biasanya. Setibanya di kantor, aku langsung menyalakan laptop dan melanjutkan kembali pekerjaanku yang sempat tertunda minggu lalu. Sambil memasang headset, aku sampai tidak menyadari bahwa tiba - tiba Pak Arief, manajerku sudah duduk di sebelahku. Sontak, aku pun langsung terlonjak kaget saat ia menyenggol pelan lenganku. 

"Pak, saya kaget beneran loh ini..." ujarku sambil tertawa pelan. Tidak biasanya Pak Arief mendatangi ku sampai ke meja. Biasanya ia hanya menghubungi lewat Skype dan menyuruhku untuk datang ke ruangannya. 

"Serius banget sih kamu sampe kaget deh jadinya," jawab Pak Arief santai. Aku pun melepas headsetku dan memutar bangku ku agar bisa duduk berhadap - hadapan dengan Pak Arief. 

"Gimana, Pak? Ada yang error?" tanyaku, to the point, karena aku tahu Pak Arief bukanlah tipikal yang suka berbasa - basi. Biasanya ia langsung menanyakan masalah - masalah krusial. Ia juga tidak pernah suka dengan jawaban yang bertele - tele dan berputar - putar. Oleh sebab itu, aku berinisiatif untuk menanyakannya langsung padanya. 

Buatku, Pak Arief adalah sosok leader yang sangat kompeten. Tidak hanya lihai dalam memimpin tim, tapi juga diluar pekerjaan, ia sudah kuanggap seperti orangtuaku sendiri. Terkadang, kalau ada waktu luang, kami sering makan siang bersama dan membahas hal - hal diluar pekerjaan. Sifatnya yang sangat kebapakan, membuatku cukup nyaman untuk bertukar pikirannya dengannya. Memang salah satu keberuntunganku punya manajer seperti dia. 

"Enggak kok, gak ada yang error. Aman semua. Saya cuma mau minta tolong aja sih, Dyt.." jawab Pak Arief, amat santai. Aku mulai berpikir jauh, karena biasanya reaksi Pak Arief tidak pernah sesantai dan setenang ini. 

"Minta tolong apa, Pak? Kan bisa lewat Skype aja, gak usah repot - repot ke tempat saya begini, Pak.." 

"Iya, soalnya mau minta tolong kamu untuk pegang kantor cabang Bandung selama enam bulan. Hehehehe...." Cengiran Pak Arief sekaligus senyumnya yang lebar sontak membuat aku tertawa. Kami berdua pun akhirnya sama - sama tertawa. 

Aku mengernyitkan dahi sekilas, lalu kembali tertawa, "Bapak nggak salah, Pak?" tanyaku yang masih setengah tidak percaya dengan apa yang baru saja dikatakannya. 

"Saya kan nggak pernah salah, Dyt.." ledek Pak Arief yang lagi - lagi membuatku tertawa. "Tolong ya, Dyt. Saya cuma percaya sama kamu soalnya." 

"Bapak kangen saya gak nanti kalau enam bulan saya ditugasin ke Bandung?" tanyaku, yang disambut tawa lepas dari Pak Arief. 

"Ya ampun iya juga ya, Dyt! Kangen pasti deh, mana anak buah saya yang pinter kan kamu doang. Cuma ya gak apa - apa lah, abis yang handle kantor Bandung baru aja resign. Jadi mereka semua agak keteteran dan minta bantuan back up dari Jakarta. Ya sudah, dengan amat terpaksa saya lepas kamu deh. Soalnya saya yakin kamu bisa." Pak Arief menjawabnya dengan lebih serius sekarang, walaupun diselingi dengan senyuman kecil. 

Aku masih terdiam sesaat. Bandung. Bandung lagi. Kenapa akhir - akhir ini Bandung sering kembali terlintas di pikiranku? Bahkan kehidupanku sekarang. 

"Saya pikir - pikir bagus juga untuk karir kamu, Dyt. Saya sudah pikirkan dan putuskan, kami akan saya promote karena sudah pegang di kantor cabang," lanjut Pak Arief lagi yang makin membuatku mengernyitkan dahi. Perasaan campur aduk antara senang, kaget, bingung benar - benar kurasakan sekarang. 

"Ini saya gak lagi dikasih harapan kosong kan, Pak?" tanyaku mencoba mencairkan suasana, sekaligus menutupi rasa terkejutku yang cukup memuncak. Lagi - lagi, Pak Arief tertawa. Belum pernah aku melihatnya tertawa selepas ini. 

"Biar gak disangka saya kasih harapan kosong, setelah ini saya langsung e-mail ke kamu ya, soal tunjangan yang baru. Semoga cocok di kamu. Deal ya, Dyt?" tanya Pak Arief lagi, yang selalu menantikan jawaban konfirmasi secepatnya, tanpa basa - basi lebih jauh. 

"Boleh, Pak. Ya udah, Pak.. Sejujurnya saya masih shock sih, Pak. Kaget banget, enggak nyangka aja." jawabku sambil menghela nafas pelan. 

Pak Arief tersenyum lagi yang membuatku seperti melihat sosok seorang Bapak yang sebenarnya tidak rela melepaskan anak gadisnya pergi jauh. "Gak apa - apa, nanti kamu terbiasa. Saya yakin kok sama kamu." 

Aku pun mengangguk sambil tersenyum, "Makasih ya, Pak udah mau percaya sama saya." 

"Sama - sama, Dyt. Saya juga makasih karena kamu selalu bisa bantu saya selama ini.." jawaban Pak Arief benar - benar membuatku bangga sekaligus bahagia bukan main. "Anyway, lusa kamu sudah harus di Bandung ya, Dyt. Besok akan saya kasih tiket kereta nya ke kamu."