Tuesday, March 31, 2020

Panji | Tiga

Saat aku sedang bersiap - siap menuju apartemen Dyta, untuk menjemput Ado karena kami sepakat akan CFD bersama, ponselku bergetar. Aku melihat nama Dyta muncul, dan aku memang benar - benar tidak bisa menyembunyikan perasaan senangku saat itu. Sontak, aku tersenyum. 

"Halo? Iya, Dyt.." ujarku. 

"Nji.. Ini Ado belum bangun - bangun. Duh, apa kamu gak usah kesini aja dulu?" Terdengar nada cemas dari suara Dyta. 

"Gak apa - apa, aku tungguin aja disana. Ini aku udah mau berangkat kok," jawabku santai, walaupun sebenarnya aku tidak ingin rencana ini batal, karena aku ingin sekali melihatnya hari ini. 

"Ya udah, kamu kesini aja dulu. Kalo udah di lobby kabarin ya, nanti aku jemput. Bisa setengah jam lagi ini kayaknya nunggu Ado bangun," 

Aku tersenyum lebar mendengar suaranya. Bisa kubayangkan ekspresi wajahnya di seberang sana yang sedang cemas serta tidak enak padaku. Tipikal Dyta, selalu mudah tidak enak pada orang lain. Mungkin karena ia memang selalu lebih memikirkan orang lain daripada dirinya sendiri. Ini adalah salah satu hal yang tidak banyak kulihat dari beberapa wanita kebanyakan.

Lima belas menit kemudian, aku sudah sampai di lobby apartemennya dan mendapati dirinya sudah menunggu disana. Aku tidak bisa mengontrol ekspresi wajahku saat melihatnya masih memakai piyama berwarna kuning muda. Ia pun tersenyum, menyambutku, seperti biasa dengan hangat walaupun aku bisa melihat ada sedikit perasaan 'tidak enak' darinya.

"Maaf ya, udah bikin kamu pagi - pagi kesini, eh yang pengen CFD masih tidur pules," ujarnya setengah cemberut.

"Gak apa - apa kok, santai aja. Kan CFD nya sampe jam sembilan juga, berangkat jam tujuh masih sempet kok," Aku tidak bisa menahan diriku untuk menatapnya dan tersenyum padanya.

"Kamu udah sholat subuh kah?" tanya Dyta pelan sambil menekan tombol lift. Aku cukup terkejut dengan pertanyaan itu, sontak aku langsung melihat ke arahnya, lalu ia tersenyum sambil menaikkan alis, seperti menunggu jawabanku, "Kalau belum, ada sajadah kok di tempat aku, kayaknya dari pemilik sebelumnya. Masih bersih juga, bisa kamu pake,"

Aku menatapnya dalam - dalam, ada tahu kalau ia mengucapkan itu semua dengan tulus, semata - mata karena ia memang perhatian denganku. Aku pun mengangguk, tak bisa kujawab pertanyaannya yang sangat sederhana itu. Aku memang belu sholat subuh pagi ini, mungkin karena terlalu bersemangat ingin melihatnya. "Nanti aku pinjem ya," Hanya itu kalimat terbaik yang bisa kuberikan padanya.

Kami berdua pun masuk ke dalam ruangan apartemennya. Ini pertama kalinya aku masuk kesana. Cukup mewah, dari segi interior dan penataan, juga furniture. Dan yang pasti, ruangan itu terkesan sangat lowong jika hanya ditempati Dyta seorang diri. Ia masuk ke dalam kamarnya sebentar lalu kembali lagi sambil membawa sajadah yang ia bicarakan tadi.

"Sholat di kamar aku aja, ada arah kiblatnya," Ia menyodorkan sajadah itu padaku lalu tersenyum, "Aku sambil bangunin Ado lagi ya,"

Aku mengangguk, lalu beranjak menuju kamar tidurnya, sementara ia berjalan menuju sebuah kamar yang ukurannya lebih kecil, yang terletak persis di seberang kamar tidurnya. Aku pun memasuki kamar Dyta sambil menghela nafas. Di samping tempat tidurnya aku bisa melihat sebuah bingkai foto polos, yang merupakan foto keluarganya, karena Ado ada disitu.

Allaahummahdinii fii man hadaiit, wa aafinii fii man aafaiit, wa tawallanii fi man tawallaiit, wa baarik lii fiimaa a’thaiit. Wa qinii syarra maa qadhaiit. Fa innaka taqdhii wa laa yuqdhaa ‘alaiik. Innahu laa yadzillu maw waalaiit.

Ya Allah, berilah aku petunjuk seperti orang-orang yang telah Engkau beri petunjuk. Berilah aku kesehatan seperti orang yang telah Engkau beri kesehatan. Pimpinlah aku bersama-sama orang-orang yang telah Engkau pimpin. Berilah berkah pada segala apa yang telah Engkau pimpin.

Aku mengakhiri rangakain sholatku dengan Salam lalu berdzikir sejenak. Setelah selesai, langsung mengarahkan pandanganku ke arah pintu kamar. Kudapati Dyta sudah berdiri disitu, entah sudah berapa lama, karena posisiku membelakanginya. Ia tersenyum. Aku pun beranjak mendekatinya. Ia pun berjalan masuk ke dalam sambil terus memandangiku.

Aku menghela nafas pendek. Jarak kami berdua tak lebih dari tiga puluh sentimeter. Aku menatap matanya sekali, mengucapkan Bismillahirrahmanirahim dalam hati, lalu memeluknya. Ia pun langsung mendekapktu juga cukup erat sampai bisa merasakan wangi rambutnya lalu tersenyum dari balik tubuhnya.

Tenang, itu lah satu kata yang bisa kurasakan saat aku mendekapnya. Aku benar - benar tenang, tidak ada perasaan gelisah, atau setidaknya aku tidak memikirkan apapun yang ada diantara kami saat aku memeluknya. Perlahan aku pun melepas pelukanku, menatapnya lalu mencium keningnya.

Ia tersenyum, lalu aku kembali mendekapnya.

"Nji," panggilnya pelan, Aku pun melepaskan pelukanku lalu menatap matanya, yang berbinar seperti anak kecil polos.

"Iya, Dyt," jawabku sambil tersenyum lalu membelai pelan kepalanya.

"Tadi doain aku nggak?"

Aku lagi - lagi tak bisa menjawab pertanyaan sederhana itu. Aku kembali mencium keningnya lalu mendekapnya, sekali lagi.
Ya Allah, tolong jangan yang satu ini, pintaku dalam hati.